
BADUNG – Kondisi kawasan Pantai Bingin pasca pembongkaran bangunan melanggar, viral di media sosial. Kondisi tersebut dinilai semrawut, lantaran masih ada banyak puing di area pantai. Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta mengaku menyayangkan hal tersebut. Pasalnya, pembongkaran terlaksana dengan menyisakan masalah baru bagi masyarakat dan wisatawan.
Apalagi diketahui dia, begitu dikeluhkan dan disampaikan ke pihak terkait, malah ada puing yang ditimbun pasir pada area pantai. Selain tidak elok secara estetika, itu menurut dia juga berpotensi menimbulkan bahaya.
“Sekarang ditimbun, oke-lah tidak terlihat karena surut. Begitu air pasang, kan itu ketarik, sehingga puing-puing itu akan terlihat dan tidak bagus,” ucapnya sembari mengatakan bahwa sudah menerima banyak keluhan mengenai puing bekas bongkaran di area pantai tersebut.
Berkenaan dengan itu, Sumerta meminta agar pembersihan dapat dilaksanakan sesuai komitmen awal. Yakni dengan benar-benar menyingkirkan puing dari kawasan pantai, bukan sekadar menimbunnya dengan pasir. “Kami minta kepada Satpol PP dan Dinas PUPR agar segera menuntaskan pembersihan itu sesuai janji semula. Jangan hanya menimbun, karena nanti kalau pasir tergerus, puingnya muncul lagi,” sebutnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Satpol PP Badung, IGAK Suryanegara mengatakan bahwa proses pembongkaran bangunan ilegal di Pantai Bingin telah rampung. Dan itu, dipastikan telah ditindaklanjuti pula dengan beberapa kali langkah pembersihan puing. “Sebenarnya sudah beberapa kali kita tarik puing-puing itu sampai jauh ke atas, namun dengan naiknya pasang laut dan ombak, itu ketarik lagi,” jelasnya.
Berkenaan dengan kondisi yang terjadi, Suryanegara mengatakan bahwa pada saat ini pihaknya tengah mengajukan persetujuan pergeseran dana untuk sewa alat berat. Mengingat anggaran awal yang digunakan untuk pembongkaran, sudah habis terpakai. “Jadi kita menunggu persetujuan pergeseran anggaran. Setelah itu baru bisa lanjutkan lagi pembersihannya,” imbuhnya. (adi,dha)








