
BANGLI – Danau Batur di Kintamani kembali dibersihkan dari ribuan bangkai ikan yang mengambang sejak beberapa hari terakhir. Dalam aksi besar-besaran yang digelar pada Rabu (16/07/2025), sebanyak 9 ton bangkai ikan berhasil diangkat oleh ratusan personel gabungan dari berbagai instansi dan elemen masyarakat.
Aksi ini melibatkan personel dari Pemkab Bangli, TNI, Polri, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Balai Wilayah Sungai Bali Penida (BWS), para relawan, hingga warga sekitar.
Kegiatan dipusatkan di wilayah Desa Terunyan, yang merupakan salah satu titik terparah terdampak.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas sektor dalam menangani kondisi darurat ini.
“Kami sangat mengapresiasi semangat gotong royong dari semua pihak, terutama rekan-rekan TNI, para relawan, dan warga masyarakat. Ini bukti bahwa kepedulian sosial masih sangat kuat,” ujar Sarma di sela kegiatan.
Menurutnya, dari aksi bersih-bersih ini telah terkumpul sekitar tiga truk bangkai ikan dengan total berat mencapai 9 ton. Rencananya, bangkai ikan tersebut tidak dibuang begitu saja, melainkan akan dimanfaatkan sebagai pupuk di kebun jeruk milik petani di Desa Pengotan, Kecamatan Bangli.
“Bangkai ikan ini kita kirim ke kebun petani untuk dijadikan pupuk organik. Jadi tetap ada nilai manfaat,” jelasnya.
Sarma menambahkan, pembersihan akan dilanjutkan kembali pada Kamis (17/07/2025), mengingat jumlah bangkai yang masih banyak dan potensi pencemaran yang tinggi.
Aksi ini, kata dia, merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat, khususnya para pembudidaya ikan yang kini tengah mengalami kerugian besar akibat kematian massal ikan.
“Petani ikan masih shock. Banyak yang kehilangan hasil panen dalam jumlah besar. Kami sebagai petugas tentu wajib hadir dan membantu semampu kami,” ungkapnya.
Belum diketahui secara pasti penyebab kematian massal ikan di Danau Batur, namun fenomena seperti ini sebelumnya kerap dikaitkan dengan perubahan suhu air dan kadar oksigen yang menurun drastis, terutama saat cuaca ekstrem.
Pemerintah kini terus memantau kondisi dan kualitas air danau, sekaligus menyiapkan langkah-langkah lanjutan untuk membantu pemulihan ekonomi para petani ikan yang terdampak.(dus,yan)








