
BADUNG – Selama rangkaian Pujawali di Pura Luhur Uluwatu, Desa Pecatu, Kuta Selatan, suasana di area Pura terlihat sedikit berbeda. Dari yang biasanya ramai oleh kawanan monyet, area Pura kini tampak lebih tenang. Karena ternyata, monyet-monyet sengaja ‘diungsikan’ sementara ke area parkir baru.
Langkah ini diambil oleh pihak desa adat demi menjaga kenyamanan para pemedek yang tangkil (sembahyang) ke Pura selama upacara berlangsung. Menurut Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, pemindahan ini dilakukan secara alami tanpa menyakiti. Monyet-monyet diberi umpan makanan, agar berpindah lokasi untuk sementara waktu. Asupan berupa buah-buahan ini dipastikan akan diberikan setiap hari.
“Khusus pelaksanaan Pujawali. Karena banyak krama yang datang dengan sarana upakara berupa sesajen buah-buahan itu, maka kami ungsikan monyet-monyet it uke timur, di tempat parkir yang baru. Kami beri mereka umpan atau makanan di sana, sehingga mereka tidak mengganggu para pemedek yang tangkil,” ungkapnya.
Menurut Sumerta, monyet atau wanara di Uluwatu terbilang sudah menjadi bagian dari harmoni kehidupan masyarakat. Hal ini notabene sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Bahkan, keberadaan merekalah yang bisa dibilang menjadi salah satu daya tarik wisata di Uluwatu.
“Kami sangat berkomitmen terhadap keberadaan monyet-monyet ini. Mereka adalah bagian dari wanara yang telah terbukti memberikan nilai tambah terhadap DTW Uluwatu,” pungkasnya. (adi)








