
BULELENG- Penetapan Ranperda tentang Penyertaan Modal kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menjadi Perda Kabupaten Buleleng oleh wakil rakyat di DPRD Buleleng, tak hanya membuat perusahaan daerah selaku exsekutor program pemerintah daerah bernafas lega.
Komitmen pemerintah dalam memberdayakan BUMD menjadi lokomotif penggerak perekonomian sekaligus peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga diapresiasi sebagai motivasi bagi BUMD khususnya Perumda Swatantra dalam pengembangan usaha.
“Sebagai salah satu BUMD di Kabupaten Buleleng, kami mengapresiasi Perda tentang penyertaan modal ini dan Perumda Swatantra mendapat alokasi Rp 17 Miliar untuk lima tahun kedepan,” ungkap Dirut Perumda Swatantra I Gede Bobi Suryanto usai mengikuti rapat daring Musrenbang-RKPD tahun 2026 di Kantor Perumda Swatantra, Rabu (26/3/2025).
Menyikapi Perda Penyertaan Modal BUMD ini, kata Bobi, jajaran Direksi Perumda Swatantra sudah menyiapkan rencana bisnis yang sejalan dengan arah kebijakan, program prioritas pembangunan dari Bupati dan Wakil Bupati Buleleng periode 2025-2030.
“Kita segera susun program, rencana-rencana bisnis yang sudah jalan maupun yang akan kita kembangkan. Salah satu yang akan kita perbesar, yang sudah jalan ini adalah di toko pangan. Hal ini sesuai catatan dari wakil rakyat, sebagaimana disampaikan bapak ketua DPRD dalam RKPD mengharapkan BUMD untuk menyerap hasil produksi pertanian,”
ungkapnya.
Untuk memenuhi harapan tersebut, Perumda Swatantra telah menyiapkan skema,bagaimana Toko Pangan menyerap hasil produksi pertanian secara luas.
“Kami sudah siapkan skemanya, rencana bisnismya, itu kurang lebih kita butuhkan modal Rp 6 Miliar. Dimana yang kita serap adalah produk pangan berupa jagung, beras termasuk gabah, kedelai, telur, ikan dan hewani,” terangnya.
Bobi menegaskan, selain mendorong petani untuk lebih bergairah mengolah lahan dan meningkatkan produksinya karena sudah tersedia hilirisasinya, penyerapan produk pangan ini juga bertujuan untuk menstabilkan harga pangan, terutama bahan pangan pokok yang berpotensi penyumbang kenaikan inflasi.
“Kita utamakan penyerapan produksi pangan lokal dulu, sehingga petani kita bisa berkembang. Jika kekurangan, baru kita kerjasama antar daerah baik Kabupaten Tabanan dan Bangli melalui kerja sama antar Perumda,” jelasnya.
Berikutnya adalah hilirisasi dilengkapi industri pengolahan produk perkebunan berupa kopi yang disinergikan pengolahan gabah dan peternakan.
“Skema ini kita lakukan melalui kerjasama dengan Dinas Pertanian, karena Dinas Pertanian sebagain regulator yang memiliki data dan potensi, sementara bisnisnya Swatantra yang menjalankan,” terangnya.
Sinergitas ini, kata Bobi, diharapkan dapat memotivasi petani untuk meningkatkan produksinya karena sudah ada Perumda Swatantra yang akan menyerap produksi pertanian yang dihasilkan.
“Melalui sinergitas juga kita lakukan optimalisasi usaha perkebunan melalui intensifikasi, mulai tahun 2021 melakukan penanaman pohon kopi, cengkeh, maupun alpukat dan durian, sehingga saya yakin tahun 2026-2027 sudah ada hasil. Nah ini, tujuannya untuk masa depan, sehingga kebun-kebun yang dikeloa Swatantra tidak lagi terbengkalai,” tandasnya.
Sementara ekstensifikasi, dari luasan lahan 37,6 hektar di Kecamatan Banjar, Sukasada dan Busungbiu, 47,2 hektar lahan HGU dari Provinsi dan Pusat di Kubutambahan yang dikelola saat ini, akan diupayakan melalui permohonan lahan Eks HGU Swatantra di Desa Sepang dengan luasan 488 Hektar.
“Kita masih urus di BPN Buleleng, kita koordinasikan dengan perbekel, sehingga lahan teresebut bisa bermanfaat,” tandas Bobi yang juga berharap skema realisasi penyertaan modal dapat dilakukan secara proporsional sehingga bisa mempercepat optimalisasi usaha yang direncanakan. (kar/jon)








