
BULELENG – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Ahmad Muzani, Jumat, 15 Mei 2026 memberikan Kuliah Umum (Kulum) Kebangsaan di Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan. Selain menekankan pentingnya pemahaman civitas akademika terhadap kiprah Mpu Kuturan dalam mempersatukan berbagai sekte di Bali, pada momentum yang dihadiri tokoh lintas agama di Bali Utara, organisasi kemasyarakatan keagamaan, FKUB, ormas Aliansi Cipatyung Plus, serta Aliansi BEM di Bali Utara tersebut, seluruh masyarakat terutama generasi muda juga diajak untuk membangun bangsa yang gemilang dengan spirit persatuan, nilai-nilai Pancasila, dan wawasan kebangsaan menuju Indonesia Emas 2045.
“Penggunaan nama besar seorang Mpu yang hidup pada masa Kerajaan Udayana harus menjadi spirit dalam menjaga kerukunan yang telah terjalin sejak dahulu,” tandas Ahmad Muzani pada Kulum Kebangsaan yang dirangkaikan dengan penancapan Penjor Kebangsaan sebagai simbol persatuan, harmoni, dan semangat kebangsaan yang berpijak pada nilai budaya lokal di Kampus Menjangan, Institut Mpu Kuturan.
Pada Kulum Kebangsaan yang juga dihadiri Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia, I Nengah Duija, Sekretaris Daerah (Sekda) Buleleng Gede Suyasa, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, Ketua DPD Partai Gerindra Bali Made Miliawan Arya dan Gede Harja Astawa selaku Ketua DPC Gerindra Buleleng tersebut Muzani juga mengajak civitas akademika untuk bangga berada di bawah naungan Institut Mpu Kuturan.
“Spiritualitas tidak boleh menghancurkan persaudaraan. Sampai saat ini semangat persaudaraan masih cukup kuat,” tandasnya.
Ia menambahkan, Indonesia akan memasuki usia 100 tahun pada 2045 mendatang dan tantangan bangsa ke depan harus dipersiapkan sejak sekarang.
“Sekarang, problem kita adalah bagaimana anak-anak bisa makan, bisa kuliah dengan murah. Dalam suasana hidup seperti ini bukan hal yang gampang, perang membuat kebutuhan menjadi sulit dan seluruh dunia merasakan,” ungkap Muzani yang juga menekankan generasi muda harus memiliki kemandirian dan ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Muzani mengaku yakin orang Bali memiliki kemampuan inovasi yang baik, kemampuan berkesenian yang baik, dan teruji dalam bidang kesenian.
“Berdasarkan hasil survei pada pertengahan Maret lalu, sekitar 98 persen masyarakat Indonesia bangga terhadap identitas keindonesiaannya. Dari angka tersebut, sebanyak 73 persen menyatakan siap membela negara. Selain itu, sekitar 92 persen masyarakat memahami Pancasila sebagai dasar negara,” terangnya.
Ini menunjukkan pijakan bernegara Rakyat Indonesia sudah baik dan tata cara bernegara diterima masyarakat luas.
“Jadi, mari perkokoh semangat persatuan dalam bingkai Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara,” tegas Muzani diapresiasi Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A.
Selaku Rektor IMK, Prof. Suwindia mengapresiasi Kulum Kebangsaan serangkaian Dies Natalis I IMK dari Ketua MPR RI ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kampus dalam menanamkan wawasan kebangsaan, karakter, dan semangat persatuan melalui dunia pendidikan.
Dengan semangat Indonesia Emas 2045, Prof. Suwindia menyatakan IMK percaya generasi muda hari ini akan menjadi kekuatan besar bagi masa depan bangsa yang unggul, harmonis, dan berdaya saing.
“Kami sangat senang, Bapak Ketua MPR RI sudah berkenan hadir di tengah-tengah sivitas IMK untuk menguatkan spirit kebersamaan,” ujarnya.
Ia juga memaparkan saat ini IMK terus berbenah untuk meningkatkan layanan, khususnya di bidang sarana dan prasarana.
“Salah satunya melalui pembangunan Gedung Pascasarjana di Jalan Kresna, Singaraja. Kami sedang membangun gedung pascasarjana. Penyelesaian gedung kini memasuki tahap kedua, namun belum bisa difinalisasi karena keterbatasan anggaran,” ungkap Suwindia dibenarkan Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.SI.
Selaku Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Duija menegaskan kuliah umum merupakan bagian dari cita-cita yang diamanatkan UUD 1945, khususnya dalam mempersiapkan visi Indonesia Emas 2045.
“IMK memiliki tanggung jawab moral sebagai kawah candradimuka untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kokoh,” tegasnya.
Dalam pandangan Hindu, kata Prof. Duija, persatuan merupakan manifestasi Vasudhaiva Kutumbakam yang berarti semua adalah bersaudara.
“Nilai-nilai tersebut sangat selaras dengan semangat Pancasila sebagai pemersatu bangsa di tengah keberagaman Indonesia,” terangnya.
Sejalan dengan Renstra Ditjen Bimas Hindu dan Asta Protas Menteri Agama, pihaknya menjadikan kerukunan dan moderasi beragama sebagai fondasi utama.
“Kami percaya, untuk mencapai visi tersebut, kita memerlukan tiga pilar utama, yakni sumber daya manusia unggul, harmoni dan cinta kemanusiaan, serta dharma negara yang kuat dengan berlandaskan nilai-nilai ketuhanan,” tegas Prof. Duija yang juga memproyeksikan Kampus IMK bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga laboratorium pengamalan dari nilai-nilai Pancasila.(karr)








