
DENPASAR – Seniman kontemporer Bali, I Nyoman Handiyasa, menghadirkan pameran tunggal bertajuk “Cycles & Journeys” di Sudakara ArtSpace, Sudamala Hotel Sanur. Pameran ini menampilkan karya seni kontemporer yang diciptakan dari limbah kayu, ranting-ranting, serta kayu gelondongan sisa banjir, yang diolah menjadi medium refleksi atas hubungan manusia, alam, dan perjalanan batin.
Melalui pameran Cycles & Journeys, Handiyasa merefleksikan ritme kehidupan, pergerakan, dan transformasi—menangkap baik perjalanan yang terlihat maupun yang tak terlihat yang membentuk pengalaman manusia.
Dengan bahasa visual khasnya, pameran ini mengeksplorasi siklus alam, ingatan, dan perjalanan spiritual yang berulang, serta mengundang penonton masuk ke dalam dialog kontemplatif antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Material kayu yang terbawa banjir tidak diperlakukan sebagai sisa, melainkan sebagai saksi peristiwa dan arsip alam. Melalui proses artistik yang intens, material tersebut direkonstruksi menjadi karya yang menyuarakan ketahanan, ketercerabutan, dan kemungkinan kelahiran kembali.
Pameran ini diperkaya dengan penulisan dan teks karya lukisan oleh I Made Susanta Dwitanaya, yang menghadirkan lapisan narasi konseptual dan puitik. Teks-teks tersebut membuka ruang tafsir yang lebih luas, menjembatani antara objek visual dan pengalaman batin penonton.
“Cycles & Journeys adalah tentang bagaimana sesuatu yang tercerabut dapat menemukan makna baru. Kayu-kayu ini membawa perjalanan mereka sendiri, dan saya hanya membantu mereka berbicara kembali,” ujar I Nyoman Handiyasa.
Pameran tunggal ini resmi dibuka pada Jumat, 19 Desember, oleh Alexander Ketjil Kosasie, dan akan berlangsung hingga 6 Februari 2026. Pameran ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi ruang reflektif yang menghadirkan kesadaran ekologis, spiritual, dan kemanusiaan melalui praktik seni kontemporer. (wb3)








