
DENPASAR – Kasus kanker prostat di Bali masih didominasi oleh temuan pada stadium lanjut. Lebih dari 50 persen pasien baru terdiagnosis ketika penyakit sudah menyebar, sehingga pengobatan menjadi lebih kompleks dan mahal. Padahal, di banyak negara maju, kanker prostat justru lebih sering ditemukan pada tahap awal.
Hal ini diungkapkan Spesialis Bedah Urologi RSUP Prof. IGNG Ngoerah, dr. I Wayan Yudiana, Sp.U.(K), Jumat (10/10/2025). Ia menyebut, pasien dengan kanker prostat stadium 4 membutuhkan penanganan multidisiplin, mulai dari kemoterapi hingga terapi hormonal. “Jika penanganan melibatkan banyak dokter dan terapi, tentu biaya pengobatan juga meningkat. Belum lagi, sebagian pasien stadium lanjut tidak tercover BPJS dan kualitas hidup pun menurun,” jelasnya.
Menurut dr. Yudiana, faktor risiko utama kanker prostat antara lain usia di atas 65 tahun, riwayat keluarga, pola makan tinggi daging merah, merokok, dan gaya hidup tidak sehat. Di tahap awal, gejala sering kali tidak terasa. Namun beberapa tanda bisa muncul seperti sulit buang air kecil, nyeri, atau sering kencing di malam hari. Pada stadium lanjut, gejala bisa meluas menjadi nyeri tulang hingga patah tulang akibat penyebaran kanker.
Untuk meningkatkan deteksi dini, RSUP Prof. Ngoerah kini mengembangkan teknologi biopsi robotik berbasis kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini menggabungkan metode USG dan MRI untuk mendeteksi lesi berukuran sangat kecil secara presisi. “Dengan sistem ini, kemungkinan menemukan jaringan abnormal menjadi jauh lebih tinggi dibanding metode biopsi biasa,” ujar dr. Yudiana.
Hingga kini, RSUP Prof. Ngoerah telah menangani lima pasien menggunakan biopsi robotik. Teknologi serupa juga sudah banyak digunakan di Jakarta. Prof. dr. Agus Rizal Hamid, Konsultan Onkologi Urologi RSCM, mengatakan hasilnya cukup signifikan. “Dengan biopsi robotik, lesi kecil pun bisa terdeteksi. Pasien kini cenderung terdiagnosis lebih awal dan pada usia lebih muda,” ujarnya.
Upaya deteksi dini ini diharapkan mampu menekan angka kematian akibat kanker prostat serta mendorong kesadaran pria Indonesia untuk rutin melakukan pemeriksaan sejak usia 50 tahun ke atas, terutama bagi yang memiliki faktor risiko. (sur)








