
DENPASAR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bali berkolaborasi dengan Jawa Pos TV Bali menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Wartawan dalam Peliputan Bencana Alam, kegiatan ini melibatkan puluhan jurnalis dari berbagai media di Bali.
Pelatihan ini digelar untuk memperkuat kemampuan wartawan dalam memahami data ilmiah sekaligus menyajikannya dalam bentuk berita yang solutif, edukatif, dan akurat.
Sebagai destinasi wisata internasional, Bali memiliki karakteristik geologis dan geografis yang kompleks — diapit oleh dua megathrust besar, serta rawan gempa bumi, tsunami, banjir bandang, dan tanah longsor.
“Gempa bumi tidak menunggu waktu, kalau sudah waktunya, maka akan terjadi,” tegas Ni Luh Desi Purnami, analis BMKG bidang Gempa dan Tsunami saat memberi pelatihan kepada puluhan wartawan Bali di Denpasar, Sabtu (4/10/2025).
Ia menjelaskan, Bali dikepung dua sumber gempa besar di selatan dan utara dengan potensi kekuatan mencapai 8,5 SR di selatan dan 7,4 SR di utara.
Tercatat 30 sesar aktif di daratan Bali, di mana 26 sudah terpetakan dan 4 belum teridentifikasi. “Karakteristik gempa tidak bisa diprediksi, maka mitigasi dan edukasi publik menjadi kunci,” ujarnya.
Selain itu, pembicara lain Made Dwi Wiratmaja dari Stasiun Klimatologi Bali memaparkan kondisi iklim Pulau Dewata yang semakin dinamis akibat perubahan iklim global.
“Bali punya 20 zona musim dengan curah hujan tinggi di Januari–Februari dan kemarau panjang di pertengahan tahun. Anomali cuaca akibat El Niño dan La Niña membuat pola hujan makin tidak menentu,” jelasnya.
Ia menambahkan, terdapat 118 titik pengamatan hujan di seluruh Bali, bahkan hingga pelosok Nusa Penida. Data dari pos-pos ini dikirim setiap 10 hari untuk membantu BMKG membuat prakiraan cuaca dan iklim lebih akurat.
“Dekade 2011–2020 menjadi periode terpanas dengan kenaikan suhu global 1,2°C, sedangkan Indonesia naik 0,9°C. Alam tidak berubah — manusialah yang membuat iklim bergeser,” ujarnya.
Sementara itu, Kadek Setiya Wati dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar menyoroti pentingnya sistem peringatan dini (early warning system) agar masyarakat bisa merespons cepat ancaman bencana.
Kadis Lingkungan Hidup Provinsi Bali yang juga mantan Kalaksa BPBD Bali, Dr. Made Rentin, menegaskan bahwa peran media sangat strategis dalam membangun kesadaran publik. “Wartawan tak hanya menyampaikan kabar bencana, tapi juga bagian dari solusi. Inilah semangat jurnalisme solutif,” tegasnya.
Dalam pelatihan ini, para jurnalis juga diperkenalkan teknik mengenali tanda bahaya alam, langkah penyelamatan dasar, serta pentingnya memahami filosofi lokal Bali seperti Bedawang Nala, simbol keseimbangan alam yang menjadi pengingat akan kekuatan bumi.
“Wartawan adalah jembatan antara sains dan publik, mereka harus bisa menerjemahkan data kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat,” M. Ridwan selaku Ketua Panitia pelatihan.
Melalui pelatihan ini, BMKG berharap wartawan Bali tidak hanya menjadi pelapor bencana, tetapi juga penyebar pengetahuan dan penggerak kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana. (sur)








