
NINGXIA – Kalau di Indonesia kita mengenal trasmigrasi sejak tahun 70-an, ternyata juga terjadi di Provinsi Ningxia, China. Transmigrasi ala China ini mulai dilakukan sejak 1997 silam.
Trasmigrasi ini dilakukan melihat kondisi masyarakat Ningxia di bagian utara yang tinggal di pegunungan. Kehidupan mereka sangat memperihatinkan. Untuk.mencari air mereka harus naik turun gunung. Sementara kehidupan mereka sebagai petani sangat jauh dari kata cukup apalagi sejahtera.
Pemerintah China mulai melakukan program transimigrasi lokal tersebut ke bagian selatan Ningxia yang lebih datar tahun 1997. Sekitar 5000 warga Ningxia di bagian utara dipindahkan ke selatan ke lokasi yang kini dikenal dengan Min ning Town. Di lokasi baru, mereka kemudian mengolahblahannyang sangat luas. Pemerintah China menyiapkan berbagai fasilitas pendukung untuk mereka bertani.
Selang beberapa waktu, untuk mempercepat pengembangan daerah MinningbTown ini, orang-orang Fujian didatangkan karena sudah mengenal pertanian lebih baik.

Dengan perkembangan teknologi, dan dukungan pemerintah, mereka semakin cepat mengolah lahan. Kini Min ning Town berkembang sangat pesat. Anggur menjadi yang utama dikembangkan. Selain sayur mayur dan buah lainnya seperti pitch.
Mereka juga mengembangkan perternakan seperti ayam petelur, domba dan sapi perah. Hasil mererka olah din lokasi yang sama dengan teknologi modern.
Bahkan penjualannya juga sudah menggunakan e-commerse ( online) selain tentunya offline. Kini Min ning Town sudah sangat maju dan dikenal sebagai penghasil wine terbaik di wilayah China. Kehidupan mereka sangat sejahtera.
Satu hal yang juga tetap dilakukan yakni penggunaan energi listrik terbarukan. Untuk penerangan dan kebutuhan untik pabrik semua menggunakan tenaga listrik surya panel. Sementara untuk rumah-rumah warga juga dipasangi surya panel unruk kebutuhan listrik mereka. (jon)








