
BADUNG – Tempat Pengolahan Sampah Tuntas di Tempat (TPST2) Karisma kini telah dilengkapi sebuah alat baru. Yakni berupa mesin yang mampu mengolah residu pembakaran sampah menjadi paving block.
Peluncuran alat tersebut dilaksanakan pada Senin (28/7/2025). Launching ini menjadi momentum penting, karena menandai fase baru dalam pengelolaan limbah padat yang selama ini kerap dianggap sebagai masalah tanpa akhir. Ini juga sebagai bagian dari komitmen desa dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan berkelanjutan dan ekonomi sirkular.
Dengan mengubah sisa residu pembakaran yang sebelumnya hanya menjadi material tak berguna menjadi produk konstruksi bernilai guna tinggi, TPST2 Karisma membuktikan bahwa solusi lingkungan bisa sekaligus menjadi sumber inovasi dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Perbekel Desa Ungasan, I Made Kari menyampaikan, program tersebut bukan hanya sekadar pengolahan limbah. Melainkan bagian dari visi jangka panjang Desa Ungasan, menuju ‘Desa Hijau Mandiri’. “Kami ingin menunjukkan bahwa desa bisa menjadi pelopor dalam solusi hijau. Paving block ini bukan hanya simbol inovasi, tapi juga bentuk tanggung jawab sosial terhadap generasi mendatang,” sebutnya.
Didukung tim teknis, komunitas lokal, dan para pegiat lingkungan, proses produksi paving block dilakukan dengan teknologi sederhana namun efisien. Hasilnya, produk yang ramah lingkungan dan kuat secara fungsional, siap digunakan untuk fasilitas umum desa seperti trotoar, jalur pedestrian, dan ruang terbuka hijau.
Inisiatif ini, sambung dia, juga membuka peluang kerja baru, khususnya bagi warga sekitar. Selain itu juga memberikan edukasi langsung mengenai pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber.
Camat Kuta Selatan, I Ketut Gede Arta menyebut bahwa langkah yang diambil oleh Desa Ungasan melalui TPST2 Karisma ini merupakan cerminan dari kepemimpinan lokal yang visioner dan progresif. Transformasi residu sampah menjadi produk bernilai bukan hanya solusi teknis, tetapi simbol dari perubahan paradigma dalam tata kelola lingkungan.
“Saya yakin, inovasi seperti ini akan menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain di wilayah Badung bahkan Bali secara keseluruhan. Kita tidak bisa lagi hanya membicarakan pembangunan berkelanjutan. Tapi kita harus mewujudkannya, dan hari ini Desa Ungasan telah membuktikannya,” tegas Gede Arta.
Dengan program ini, TPST2 Karisma juga dinilai telah membuktikan bahwa dari sesuatu yang dianggap ‘tidak berguna’, dapat lahir inovasi yang memberi manfaat luas. “Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, tapi juga cerminan dari semangat gotong royong, keberlanjutan, dan visi desa yang unggul,” pungkasnya. (adi)








