
BADUNG – Kisruh mengenai hasil penilaian Lomba Ogoh-ogoh Kabupaten Badung ternyata belum tuntas. Tokoh masyarakat Bualu masih menyimpan unek-unek, bahkan menyatakan penolakan terhadap wacana pemberian peringkat tambahan berupa Juara Favorit.
“Kami menolak diberi tambahan Juara Favorit. Karena bukan itu hal yang kami harapkan. Janganlah seperti menyuruh anak kecil berhenti menangis dengan memberi permen,” sentil seorang tokoh masyarakat Bualu, Wayan Sumantra Karang.
Hingga saat ini, kata Sumantra, pemberian tambahan juara favorit tersebut hanya diketahuinya dari media massa. Belum ada komunikasi langsung dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung. Sehingga Disbud, dinilai justru membiarkan kekecewaan ini menjadi liar dan meluas.
“Undang kami dengan menghadirkan seluruh perwakilan peserta lomba dengan dimediasi oleh DPR selaku pengawal aspirasi. Lakukan evaluasi secara menyeluruh melalui saran dan masukan yang nantinya disampaikan melalui pertemuan. Jadi sekarang ini kami masih menunggu respon dari dewan. Kalau tidak juga ada respon, maka kami yang akan datang,” sambungnya.
Terpisah, dorongan evaluasi juga disampaikan oleh Ketua Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) Kecamatan Kuta Selatan, I Wayan Deddy Sumantra. Satu usulannya, yakni membedakan antara lomba ogoh-ogoh dan fragmen tari. “Sebenarnya juga, untuk lomba ogoh-ogoh sebaiknya diserahkan agar ditangani oleh para Yowana di Badung. Jadi ini dapat dikemas dengan melibatkan pihak ketiga sebagai sponsor. Sementara pemerintah, sifatnya pengemong,” singkatnya. (adi)








