DenpasarPendidikan

Medsos Jadi Newsmaker, Wartawan Justru Jadi Follower

Ketua SMSI Bali Ingatkan Tiga Hal Ini

foto: Para peserta Journalism Short Courses 2024 nampak antusias menyimak paparan materi dari pembicara, Emanuel Dewata Oja, Ketua SMSI Bali, Kamis (16/5/2024).

DENPASAR – Maraknya media sosial (medsos) di era digital saat ini, sudah tak bisa terbendung lagi. Medsos saat ini justru menjadi garda terdepan dalam penyebaran informasi di masyarakat, baik informasi yang berdasarkan fakta maupun hoaks.

Sayangnya, mayoritas wartawan saat ini justru memilih jalan paling mudah untuk menulis dan menemukan ide berita, sekaligus memverifikasi sebuah fakta, hanya dengan mengandalkan sumber media sosial. Medsos alias netizen saat ini sudah berperan sebagai newsmaker, sementara wartawan justru menjadi follower. 

Hal ini diungkapkan Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, Emanuel Dewata Oja yang akrab disapa Edo, saat menjadi pembicara dalam Journalism Short Courses 2024 yang digelar London School of Public Relations (LSPR) Bali, Kamis (16/5/2024) di auditorium kampus setempat.

Kondisi terbalik dari peran yang seharusnya dipegang pers inilah yang membuat media sosial saat ini justru memegang peran penting dalam penyebaran informasi publik.

Dalam pelatihan singkat bertajuk Adaptasi Jurnalisme dalam Era Digital ini, Edo juga menyampaikan hasil penelitian terbaru Universitas Moestopo dan Dewan Pers tahun 2023, yang memperlihatkan YouTube, Tiktok dan Whatsapp sebagai tiga peringkat teratas, media yang paling banyak diakses pembaca dan pengguna media sosial. Sementara surat kabar dan majalah berada di peringkat bawah. 

Melihat kondisi inilah, Edo yang juga Asesor Dewan Pers ini mengingatkan kembali tigal hal utama yang harus dimiliki wartawan, yakni integritas, jaringan dan kemampuan menulis. Integritas dimaksudkan bahwa wartawan harus bertindak konsisten sesuai dengan kebijakan undang-undang dan kode etik jurnalistik, serta memiliki pemahaman dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan dan etika tersebut. 

Wartawan juga perlu membangun jejaring untuk mendapatkan banyak informasi dari narasumber yang kompeten. Tak hanya itu, Edo juga berulang kali mengingatkan wartawan pada prinsip 5M, yakni mencari, memiliki, menyimpan, mengolah dan mempublikasi.  Dengan demikian, wartawan tidak lagi menjadikan media sosial sebagai rujukan media pers. Justru media pers harus mampu menjadi cleaning house atau rumah pembersih terhadap informasi hoaks di media sosial (medsos).

Pers dalam kiprahnya menyebarkan informasi sesuai dengan kode etik jurnalistik. Pentingnya pers dalam bebas berekspresi di setiap pemberitaan yang menyuguhkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Informasi berdasarkan fakta harus tetap dijunjung, sehingga tidak membohongi masyarakat. Dibutuhkan ketangguhan pers pada keberimbangan dan sikap independen.

Pelatihan singkat yang digelar LSPR kali ini merupakan sesi pertama di tahun 2024 dari lima sesi yang direncanakan. LSPR telah menggelar pelatihan untuk wartawan ini secara rutin sejak awal tahun 2023 lalu. (dha)

Back to top button