DenpasarSeni & Budaya

Ritus Ngerebong, Keteguhan Menjaga Tradisi

 

Ritus Ngerebong berlangsung khidmat di depan Pura Agung Petilan, Kesiman.

DENPASAR – Prosesi Ngerebong (mider bhuwana) di Pura Agung Petilan, Kesiman berlangsung pada Minggu, (17/3/2024). prosesi Pengerebongan, yaitu suatu prosesi yang bertujuan untuk menghaturkan wujud syukur kepada semesta raya atas keberlimpahan yang dianugerahkan untuk kehidupan.

Ngerebong yang dimaknai sebagai prosesi pemutaran dunia untuk mendapatkan kehidupan (amreta) berlangsung sakral dan dihadiri ribuan krama desa adat Kesiman. Rangkaian dalam prosesi mider bhuwana ini terdapat prosesi tajen (tabuh rah) untuk menghidupkan energi api, prosesi ngurek, barong dan rangda yang semuanya adalah bermakna menghidupkan energi pertiwi (api) yang selanjutnya akan bertemu dengan energi akasa yang akan menganugerahkan air (amreta) yang tiada lain merupakan energi kehidupan itu sendiri.
Secara logika, hanya api yang mampu mengubah air menjadi uap (udara), dan hanya udara yang akan mengembalikan air menjadi embun dan hujan sebagai benih kehidupan.

BACA JUGA:  Gubernur Koster Fasilitasi Kemudahan Akses Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual

Yang menarik pemasangan penjor jumbo yang dikemas dalam festival penjor yang kaya dengan kreativitas tinggi berjejer rapi dan memukau sepanjang jalan depan Pura Agung Petilan, Kesiman. Penjor itu sendiri bermakna api dan air dipertemukan menjadi cikal bakal kehidupan serta kesejahteraan di bumi. Pemaknaan ini selanjutnya diwujudkan menjadi beberapa visual dalam rangkaian penjor seperti, barong, rangda, tajen, ngurek, tedung, tumbak, cakra, yang merupakan representasi ngerebong.

Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna menjelaskan, Festival/Lomba Penjor bagi STT se-Desa Adat Kesiman ini dilaksanakan serangkaian Upacara Pengerebongan. Hal ini merupakan bentuk persembahan dan bhakti kepada Ida Bhatara Sesuhunan. Sehingga sudah menjadi tradisi untuk memasang Penjor Agung di kawasan Pura Agung Petilan Pengerebongan.

Dikatakannya, serangkaian Festival/Lomba Penjor kali ini diikuti oleh 32 peserta yang merupakan STT se-Desa Adat Kesiman. Dimana, dalam lomba yang merupakan sinergi antara Desa Adat Kesiman dan Sabha Yowana Desa Adat Kesiman ini seluruh perlengkapan penjor wajib dibuat oleh masing-masing STT. Sehingga tidak diperkenankan untuk membeli.

BACA JUGA:  KPK Geledah Kantor Imigrasi Denpasar

“Ini merupakan murni karya STT se-Desa Adat Kesiman, semoga dapat memantik generasi muda untuk mencintai budaya, berkreativitas, serta menjaga tradisi warisan leluhur di Desa Adat Kesiman,” ujar Ketut Wisna.
Salah satu, penjor berjudul Sarwa Prani karya STT Dharma Satwika Banjar Kebonkuri Mangku mengajak generasi untuk senantiasa merawat alam yang memberikan manusia kehidupan.
“Pemahaman spiritualitas manusia Bali sejatinya terletak pada kemampuannya untuk menerapkan ajaran Tri Hita Karana, yang tujuannya adalah untuk mencapai keharmonisan “Sarwa Prani Hitangkarah”. Selain itu, dengan penjor ini diharapkan nilai-nilai yang tersirat dalam ritual dalam Pangrebongan dapat disemaikan untuk generasi selanjutnya,” kata I Komang Marjana salah satu arsitek sekaligus anggota ST. (sur,dha)

Back to top button