
GIANYAR – Di tengah musim kemarau panjang belum ada laporan dari petani di wilayah Gianyar mengalami gagal panen.
Meski demikian, debit air irigasi mulai mengecil dan petani pun harus rela begadang sampai dini hari untuk memastikan padi yang mulai ditanam mendapatkan air. Kondisi ini terjadi hampir di seluruh subak di Kabupaten Gianyar.
Kabid Sarana dan Prasarana Distanak Gianyar, Sadakarya tak menampik kondisi tersebut. Pengaturan air dilakukan mulai dari bendungan atau DAM. “Pada bendungan atau dam, air dibagi per dua hari kepada saluran irigasi, kemudian dibagi lagi oleh masing-masing subak,” kata Sadakarya, Kamis (2/11/2023).
Dalam pembagian air saat kondisi kemarau ini, sudah ada kesepakatan antar subak dan antar petani terkait pembagian air, sehingga tidak ada konflik antar subak atau antar petani. “Sampai saat ini belum ada laporan terkait gagal tanam. Kalau keluhan debit air mengecil dari Gianyar utara sampai selatan, debit mengecil, dari sumbernya juga mengecil,” ungkapnya.
Persoalan lain yang juga dihadapi Dinas Pertanian adalah kekurangan tenaga penyuluh pertanian.
“Kini tersisa 11 tenaga penyuluh dan sudah berumur di atas 50 tahun sehingga mobilitas sudah menurun,” jelas Sadakarya.
11 tenaga penyuluh ini juga dibantu 13 tenaga penyuluh dari Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL TBPP) dari pusat.
24 tenaga penyuluh ini mesti menggawangi 1.950 subak yang ada di Gianyar. “Bisa dibayangkan satu tenaga penyuluh pertanian mesti menggawangi 66 subak, kerja mereka menjadi berat. Idelanya satu desa ada satu tenaga penyuluh,” bebernya.
Kondisi tersebut sudah berulang kali dilaporkan ke Kementerian Pertanian agar bisa diangkat tenaga penyuluh, tapi sampai saat ini belum ada penambahan.
“Harapan kami ada rekrutmen. Sebab, tenaga yang ada juga akan segera pensiun tahun ini dan di tahun 2024. Dengan ditambah tenaga penyuluh, program Pertanian lebih cepat sampai ke petani,” harapnya. (jay)








