
GIANYAR – Yayasan Pengolahan Sampah Temesi (YPST) Desa Temesi dipercaya oleh Dinas Pertanian Provinsi Bali untuk pengadaan 10.000 ton pupuk organik yang nantinya didistribusikan untuk wilayah Bali timur.
Pengurus YPST Desa Temesi, I Wayan Cakra mengaku sudah siap untuk permintaan tersebut.
“Kami sangat mendukung program Bali Organik ini sehingga sampah di TPA Temesi bisa terus berkurang dan diolah,” ujar Wayan Cakra, Selasa (4/7/2023).
Wayan Cakra menyebut rata-rata produksi pupuk organik mencapai 10 ton per hari.
“Dengan adanya permintaan pengadaan dari Dinas Pertanian Provinsi, kami sangat terbantu dalam hal pemasaran. Hanya saja, produksi kami belum maksimal akibat peralatan yang sudah tua dan hanggar produksi yang roboh,” ungkapnya.
Ke depan, dengan adanya proyek Pengolahan Sampah Temesi bantuan dari Bank Dunia, maka seluruh sampah yang masuk TPA diolah menjadi pupuk organik.
“Ini mimpi kami. Seluruh sampah yang masuk akan kami olah menjadi pupuk organik. Kami yakin terwujud,” ucapnya.
Rata-rata sampah yang masuk ke TPA mencapai 500 ton per hari. Dari jumlah ini, sekitar 180 ton bisa diolah menjadi pupuk organik.
Hanya, kata Wayan Cakra, YPST sampai saat ini belum memiliki alat pilah yang memadai, dan sebagian besar sebelumnya memilah dengan manual.
“Sebelumnya kami memilah dengan cara konvensional sehingga produksinya sangat lamban,” imbuhnya.
Sedangkan tenaga kerja di YPST ada 60 orang yang bekerja bergiliran. 20 orang sebagai tenaga produksi dan 40 orang sebagai pemilah.
Tenaga pemilah ini juga sekaligus sebagai pemulung, sehingga YPST merasa terbanti dengan adanya pemulung tersebut. Bila ada mesin pemilah, maka jumlah tenaga pemilah dikurangi namun dipindah sebagai tenaga produksi pupuk.
“Saat ini tenaga kami pekerjakan bergiliran, mengingat kendala peralatan dan tempat produksi yang belum perbaikan,” ujarnya. Pupuk organik produksinya dijual dengan harga Rp 1.000 per kilo, dan disediakan kemasan 10 kg, 25 kg dan 40 kg. (jay)








