
KUTSEL – Usulan pembangunan Tsunami Shelter Tanjung Benoa sudah diketahui adanya oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Badung. Sebagai tanggapan, usulan tersebut akan segera disampaikan ke Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Badung, I Wayan Adi Arnawa.
“Usulan pengadaan shelter sudah masuk di kami. Nanti hal ini akan kami sampaikan kepada Pak Sekda. Semoga bisa terealisasi. Tapi saya minta itu juga diusulkan melalui Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) Kelurahan, dan itu sudah dilakukan,” sebut Kepala Pelaksana BPBD Badung, I Wayan Dharma, Selasa (2/5/2023).
Dharma mengakui, Tsunami Shelter adalah fasilitas yang sudah menjadi kebutuhan di wilayah Tanjung Benoa. Tentunya hal tersebut berkaca kepada tingkat kerawanan wilayah. Apalagi dalam Rakornas Penanggulangan Bencana BPBD 2023, Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar memperkuat dan meningkatkan sektor antisipasi dini.
Disampaikannya pula, pra bencana merupakan tahap yang sangat penting. Terutama dalam kaitan memitigasi risiko, termasuk meminimalisir korban dan kerugian akibat bencana. Hal tersebut dapat berupa pelaksanaan edukasi dan simulasi, pemetaan kerawanan bencana, ataupun pemenuhan sarana dan fasilitas dibutuhkan.
Terpisah, usulan pembangunan Tsunami Shelter Tanjung Benoa juga mendapat dukungan dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Badung. Sebagai ketua, I Gusti Anom Gumanti menyebut bahwa itu merupakan wujud dari peran aktif FPRB Kelurahan Tanjung Benoa dalam memetakan potensi risiko bencana.
Kaitan dengan itu pula, dirinya mengajak FPRB di masing-masing kelurahan/desa lainnya untuk melakukan hal serupa. Yakni memetakan potensi kerawanan di wilayah masing-masing, sebagai bagian dari langkah siaga dan tanggap bencana. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan pelatihan dan edukasi, simulasi, serta pengajuan sarana dan prasarana dibutuhkan.
“Dengan demikian masyarakat akan lebih terlatih, sehingga dampak ditimbulkan ketika terjadi bencana dapat diminimalisir,” sebutnya.
Darma juga mengabarkan, setahun terbentuknya FPRB, sudah ada banyak kegiatan yang dilaksanakan. Mulai dari upaya penjagaan ekosistem, sosialisasi dan edukasi kesiapsiagaan, hingga simulasi mitigasi bencana.
“Ke depan tentunya kami berharap dukungan berbagai pihak untuk bersinergi dalam upaya tanggap darurat, karena ini adalah demi kepentingan bersama,” pungkasnya. (adi/jon)








