
KUTSEL – Kendati telah menyandang predikat sebagai Komunitas Siaga Bencana Tsunami UNESCO-IOC, Tanjung Benoa ternyata memiliki sejumlah PR kesiapsiagaan bencana yang masih belum terpenuhi. Salah satunya mengenai kebutuhan Tsunami Shelter.
Menyadari itu, pihak kelurahan telah memasukkan pembangunan Tsunami Shelter sebagai salah satu usulan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Yakni dengan memanfaatkan lahan Pasar Desa, dengan perkiraan anggaran dibutuhkan senilai Rp 15 miliar.
“Kami (Tanjung Benoa) memang butuh sekali shelter khusus seperti yang dibangun di Kuta. Lokasi sudah di-ACC dan itu juga sudah diusulkan melalui Musrenbang. Mudah-mudahan bisa dipercepat prosesnya,” ungkap Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Tanjung Benoa, I Wayan Deddy Sumantra, belum lama ini.
Pentingnya pembangunan Tsunami Shelter di Tanjung Benoa, katanya adalah berkenaan dengan masih dibutuhkannya bangunan yang layak sebagai Tempat Evakuasi Sementara (TES). Karena meskipun sudah ada sejumlah akomodasi wisata yang diajak bekerjasama, daya tampungnya dirasa masih kurang untuk mengakomodir seluruh masyarakat Tanjung Benoa termasuk juga wisatawan.
“Masyarakat lokal kita saja itu sudah 5.800-an. Belum lagi masyarakat pendatang dan wisatawan. Di samping itu, di sini kita juga merupakan daerah yang datar dengan akses jalan hanya satu. Sehingga kami memandang pembangunan Tsunami Shelter itu sangat diperlukan,” ucapnya.
Secara desain, Tsunami Shelter katanya dikonsep bukan hanya sebagai tempat evakuasi saja. Melainkan juga sekaligus dapat dimanfaatkan untuk mendukung pariwisata.
“Dengan itu kami akan branding Tanjung Benoa ini melalui wisata mitigasi kesiapsiagaan. Karena kami rasa, keberadaan shelter tersebut bisa sekaligus mengundang daya tarik wisata,” sambungnya.
Lokasi yang diajukan sebagai tempat dibangunnya Tsunami Shelter, dirasa sangat strategis. Karena di sekitarnya adalah pemukiman padat, dengan akses yang bisa melalui empat pintu.
“Tapi tentu untuk kontruksinya perlu kami bahas lebih mendalam. Agar betul-betul tertata bagus, baik dari sisi estetika dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Sementara terpisah, Lurah Tanjung Benoa, I Wayan Sudiana membenarkan bahwa pembangunan Tsunami Shelter sudah dimasukkan sebagai salah satu usulan Musrenbang. Diharapkan itu bisa direalisasikan pada tahun 2024 mendatang.
“Untuk Tsunami Shelter ini kami sudah bicara juga dengan BPBD. Karena bagi kami, Tanjung Benoa ini sangat membutuhkan Tsunami Shelter. Utamanya ketika terjadi gempa berpotensi tsunami. Mengingat wilayah Tanjung Benoa merupakan wilayah zona merah, kaitan dengan kegempaan ataupun tsunami,” pungkasnya. (adi/jon)








