
GIANYAR – Jauhnya tempat relokasi pasar tradisional Sukawati, yang mulanya berada di tengah-tengah kota namun sekarang di pindah ke wilayah Banjar Gelumpang Sukawati membuat warga Batuan berharap adanya tempat alternatif atau pasar untuk para pedagang berjualan di wilayah setempat Batuan.
Hal ini cukup beralasan, sebab warga harus menempuh sekitar kurang lebih 5 kilo meter jika hanya untuk membeli sembako. “kalau dulu kita deket ke pasar yang dijadikan pasar seni (Blok C) sekarang,” ujar warga Batuan Ibuk Antari, Senin (20/3) saat ditemui sedang beberlanja di pasar tumpah Dlodtangluk.
Sementara pasar tumpah yang berada di sejumlah titik pada wilayah Sukawati saat ini sedang ditertibakan. “Biasanya kita di pasar disini Dlodtangluk, Gelulung, Babakan dan Mudita, disana sudah cukup lengkap untuk membeli kebutuhan sehari-hari,” ujarnya lagi ibu satu anak ini.
Sampai saat ini ia masih memanfaatkan pasar tumpah di sejumlah titik. Meski ada penjagaan ketat dari satpol PP, namun menurutnya pedagang cukup tertib tidak lagi berjualan di trotoar. “Pagi-pagi saya lebih memilih di pasar tumpah itu, karena sudah lengkap,” ungkapnya.
Sementara terpisah, terpisah Perbekel Batuan, Ari Anggara saat dikonfirmasi mengatakan, di Bantuan sudah ada dua pasar milik di Banjar Negara dan Banjar Puaya. “Mungkin masyarakat bisa memanfaatkan pasar yang sudah ada itu,” ujarnya.
Terkait harapan warga batuan adanya pasar baru, menurut Anggara itu belum terpikirkan. Sebab tidak adanya lahan dan tempat yang memumpuni. “Sepertinya belum ya, kita tidak ada lahan,” pungkasnya. (jay)








