
KUTA – Kritik soal penempatan gerobak kreatif oleh dua dewan Golkar Badung, mendapat respon dari Koordinator Tim Penataan Pantai Desa Adat Kuta, I Gusti Anom Gumanti. Dia menegaskan, itu hanya bersifat sementara menunggu serah terima dari Pemerintah Kabupaten Badung.
Gung Anom menjelaskan, keberadaan gerobak kreatif awalnya didasarkan atas usulan melalui Paruman Desa Adat Kuta yang kemudian menyerahkannya kepada Tim Teknis.
Tim tersebut terdiri dari warga Kuta yang memahami soal arsitektur. Setelah tim dimaksud melakukan langkah-langkah kajian dan sebagainya, hasilnya kemudian diserahkan oleh desa adat kepada pihaknya selaku Tim Penataan Pantai Desa Adat Kuta.
“Saat itu kami telah lakukan diskusi dengan menggunakan data jumlah pedagang sebagai acuan. Dimana data pedagang kita adalah sebanyak 1.200-an,” ungkapnya.
Namun mempertimbangkan terbatasnya bentang pantai, maka diputuskanlah bahwa yang mendapat fasilitas gerobak kreatif hanyalah pedagang makanan dan minuman. Selain itu juga souvenir, tatto, dan lain sebagainya yang dirasa bisa digabung.
“Setelah diskusi, akhirnya ditemukanlah hasilnya yang hanya 482 unit gerobak saja,” sambungnya.
Namun itu adalah hasil diskusi dengan memperhatikan keberadaan Pantai Kuta yang terbilang masih lebar. Sementara pada saat ini, kondisinya sudah tergerus abrasi parah.
“Karena abrasi, lebar pantai kita jadi banyak berkurang, sehingga penempatannya sekarang masih alakadarnya,” sebutnya.
Setelah hasil pekerjaan penataan Pantai Kuta diserahkan kepada Desa Adat Kuta, maka barulah nanti akan dilakukan pengaturan lebih lanjut.
“Jadi sederhananya, ini adalah bagian dari pengaruh alam yang telah mengikis Pantai Kuta. Bisa dibilang, penempatan yang sekarang ini masih belum final. Karena belum ada penyerahan dari Pemerintah Daerah kepada Desa Adat Kuta. Yang ada, baru berupa surat pemanfaatan aset,” jelasnya.
Ke depan, ketika sudah ada penyerahan kepada desa adat, dipastikan pula nantinya akan ditindaklanjuti dengan pengelolaan. Yang mana sementara ini, kaitan dengan hal tersebut pihak desa adat sendiri telah menyiapkan Pararem.
“Nanti akan ada semacam manajemen yang bertanggung jawab terhadap itu, dengan jalinan kerja sama dengan pemerintah. Apakah bentuknya nanti retribusi atau lainnya, masih dipikirkan,” pungkasnya.
Seperti diwartakan sebelumnya, dua dewan Golkar Badung yakni Ni Luh Gede Sri Mediastuti dan Wayan Suyasa sempat memberikan kritikan halus mengenai penempatan gerobak kreatif berkenaan Penataan Pantai Kuta.
Mereka menilai penempatan saat ini kurang pas karena menghalangi pandangan wisatawan ke arah laut. (adi/jon)








