
DENPASAR – Tri Hita Karana menjadi landasan Utama dalam mewujudkan Pariwisata Bali berkelanjutan. Sebagai daerah tujuan pariwisata dunia, dengan konsep Tri Hita Karana, Bali memiliki banyak keunikan, banyak budaya yang tidak dimiliki daerah lain bahkan taksunya Bali tidak bisa dikalahkan oleh daerah lain baik di Indonesia maupun dunia.
Hal itu terungkap dalam kegiatan seminar di ruang Soka, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Renon Denpasar Rabu (30/11/2022).
Kegiatan Seminar merupakan kerjasama PT IndonesiaWISE (kantor penasihat Keberlanjutan ternama,red) bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Bali yang mengambil tema, ‘Mengadopsi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Bali dalam New Normal.
Menurut Amol Titus, CEO PT Indonesia WISE, seminar ini bertujuan untuk membantu mengembangkan peta jalan pariwisata berkelanjutan untuk Bali dan membantu pemerintah memajukan salah satu prioritas pentingnya dalam pembangunan berkelanjutan seperti yang ditekankan selama konferensi G20.
Amol Titus mengatakan, Bali memiliki keunikan yang luarbiasa. Memiliki seni dan budaya Bali yang kuat dan tidak dimiliki oleh daerah lain sehingga Bali dikenal sebagai daerah tujuan wisata dunia paling terkenal didunia.
Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup masyarakat Bali yang memuat tiga unsur yang membangun keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya yang menjadi sumber kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi kehidupan masyarakat Bali.
“Konsep Tri Hita Karana menjadi landasan yang sangat kuat menjadikan pariwisata Bali berkelanjutan,”katanya.

Mewujudkan hal tersebut, para pemangku kepentingan di Bali harus mampu mengedukasi masyarakatnya untuk tetap menjaga Bali. Terlebih lagi dengan berbagai kebijakan Gubernur Bali dalam menjaga Bali, salah satunya pengurangan penggunakan plastik sehingga dengan kebijakan tersebut Bali secara perlahan-lahan mampu mengurangi timbunan sampah plastik. Sebab, hal itu akan membuat kerusakan lingkungan di Bali.
“Sebagai daerah tujuan wisata, Bali harus fokus melakukan perbaikan linkungan. Meski ada pantai bagus, terkadang banyak sampah hal itu membuat wisatawan tidak nyaman berwisata karena pantai yang kurang bersih,”ujarnya.
Selain masalah lingkungan, Kebutuhan akan air bersih untuk masyarakat lokal dan wisatawan harus mampu memenuhi kebutuhan akan air.
“Kalau semua yang dimiliki Bali dengan segala keunikannya, seni budaya, lingkungan yang bersih, Bali yang hijau dan mampu dipertahankan Bali akan sangat kuat untuk menarik wisatawan berkunjug ke Bali,”katanya.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Tjokorda Bagus Pemayun dalam sambutannya menyampaikan, Bali tertumpu pada sektor pariwisata, hampir 56 persen PDRB Bali dari pariwisata.
Pandemi Covid selama 2,5 tahun ini terasa sangat berat sebagai daerah tujuan wisata. Berbagai kebijakan juga telah diterapkan untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dengan tatanan kehidupan Bali era baru dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan kebersihan.
“Kami berharap dari kegiatan seminar ini diharapkan dapat membantu pemerintah provinsi Bali dalam mengadopsi pengembangan pariwisata berkelanjutan dalam new normal,”pungkasnya. (arn/jon)








