
DENPASAR – Medali emas tuan rumah Indonesia untuk Asian Youth Chess Championship (AYCC) 2022 akhirnya pecah telur.
Sebelumnya Indonesia masih mengumpulkan hanya medali perak dan perunggu pada even yang digelar di Hotel Grand Inna Kuta Beach. Dengan raihan 1 emas itu maka Indonesia sementara mengoleksi 1 emas, 4 perak, dan 1 perunggu. Sedangkan medali emas masih didominasi Vietnam dan India.
Emas Indonesia itu diberikan tiga pecatur yang main bersama yakni FIDE Master (FM) Kemas Ade Krisna Maisyach Suri, Arena International Master (AIM) Satria Duta Cahaya, dan Ahmad Riziq di nomor U-18 rapid chess beregu putra. Di kategori U-14, Indonesia juga berhasil meraih perak melalui Claudio Vargues Vasco Lasama, A.F. Robith Dzamir Rowdak Alfath, dan Uriel Noah Oloan Sidabutar.
Ade Kemas juga menambah perolehan medali setelah meraih perunggu di kategori U-18 rapid chess perorangan putra. Diwawancarai Rabu siang kemarin (19/10/2022), AIM Satria Duta Cahaya mengaku senang dan bangga bisa mempersembahkan emas perdana untuk Indonesia di AYCC 2022.
Kemenangannya kali ini bersama FM Kemas Ade Khrisna dan Ahmad Riziq, tidak lepas dari kesalahan yang dibuat trio Vietnam di final rapid chess.
“Kemarin, kami beruntung di final. Pas di babak terakhir, mereka (Vietnam) melakukan blunder dan kami akhirnya menang di sana. Kami dan mungkin orang-orang tahu kalau Vietnam itu kuat di catur. Jadi ini keberuntungan bagi kami karena bisa merebut emas perdana untuk Indonesia,” bebernya.
Di sisi lainnya, Vietnam dan India masih cukup mendominasi di perolehan medali hingga Rabu kemarin. Dari klasemen sementara perolehan medali, Vietnam sudah mengumpulkan 14 emas, tujuh perak, dan empat perunggu. India berada di posisi runner up sementara dengan meraih tujuh emas, tiga perak, dan lima perunggu.
Menurut Ketua Panitia AYCC 2022 Dwi Hatmisari Ambarukmi dalam keterangan resminya. “Catur cepat dengan menggunakan sistem Swiss 7, masih didominasi Vietnam dan India,” bebernya.
Pemenang lanjut Dwi Hatmisari adalah pecatur yang memiliki jam terbang tinggi dalam kompetisi.
“Bertanding nonstop seperti ini, membutuhkan stamina dan konsentrasi yang tinggi untuk bisa meraih kemenangan. Kebetulan pecatur Vietnam punya mental baja sehingga mendominasi. Bukan hanya di catur sebenarnya, di cabang olahraga lain juga mereka cukup mendominasi kan. Misalnya di sepak bola,” tandas Dwi Hatmisari. (ari/jon)








