
GIANYAR – Ribuan masyarakat tumpah ruah mengiringi pelebon putra terakhir Raja Batubulan, Cokorda Raka (86), Senin (19/9/2022).
Pelebon menggunakan bade tumpang 9 dengan ketinggian 18 meter dan bentang sanan 8 meter persegi yang diarak warga menuju Setra Pura Dalem Puri Batubulan.
Rangkaian prosesi upacara mulai pukul 11.00 WITA itu diawali membunyikan kulkul untuk menghadirkan para penyandang. Berlanjut menurunkan jenazah dari sumangen kemudian dinaikkan ke bade.
Tepat pukul 12.30 WITA, bade dan lembu hitam diarak ke Setra Desa Adat Batubulan yang menempuh jarak kurang lebih 2,5 kilometer dengan diiringi gamelan baleganjur dari beberapa sekaa teruna.
Iring-iringan tak hanya disaksikan masyarakat lokal, tapi juga wisatawan yang tengah berlibur.
Cokorda Gde Putra (56) yag merupakan putra sulung almarhum menuturkan, Cokorda Raka menghembuskan nafas terakhir pada 7 Agustus 2022 di kediamannya Puri Batubulan.
Mendiang meninggalkan seorang istri, Cokorda Istri Oka yang merupakan kakak kandung Cokorda Raka Kertyasa alias Cok Ibah, tiga orang putra, serta dua orang putri.
Penyabar dan Tak Mau Merepotkan Keluarga
Semasa hidup, Cokorda Raka dikenal sangat bijaksana dan memberikan pegangan hidup kepada putra putrinya. Memasuki masa tua, almarhum berusaha beraktivitas sendiri karena tidak ingin merepotkan keluarga.
“Selain karena usia telah lanjut, beliau juga selama tujuh tahun terakhir mengidap glukoma. Indera penglihatan beliau berkurang sampai akhirnya buta total kiri dan kanan. Selama 7 tahun itu beliau sangat sabar,” kenangnya.
Cokorda Raka tidak sekalipun depresi atau mengeluh ketika tidak lagi bisa melihat keindahan alam semesta.
“Orang yang bisa melihat, tiba-tiba gelap pasti gelisah. Tapi beliau tetap tenang,” ujarnya.
Cokorda Raka pun menghibur diri dengan mendengarkan suara televisi meski tidak bisa menikmati visual.
“Jadi, malam beliau mendengar tv sampai habis siaran, pagi sampai siang beliau istirahat,” jelasnya.
Dengan kondisi mata tidak bisa melihat, Cokorda Raka tetap bisa melakukan aktivitas sendiri, semisal makan dan ke kamar kecil.
“Beliau tidak mau disuapi, makan sendiri. Mandi pun sendiri. Itu yang kami salut dengan kondisi terbatas, biasa lakukan tanpa bebani siapapun. Sebelum sakit, beliau juga sering melukis. Semua lukisan di dinding Puri, semua karya beliau,” terang keponakan Cok Ibah ini. (jay)








