
DENPASAR – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VIII, Prof. Dr. Nengah Dasi Astawa, M.Si memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Umar Ibnu Alkhatab pada lembaga Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Bali. Selama sepuluh tahun menjadi Kepala ORI Bali, mampu menjadi pelayan publik yang baik. Bahkan sebagai Kepala ORI Bali dua periode ini bisa menempatkan diri dilima posisi.
“Sebagai pemimpin beliau ada dilima posisi, bisa berada posisi didepan, dibelakang, ditengah, diatas dan bahkan dibawahpun bisa. Umar punya ambisi luar biasa tetapi tidak ambisius,”kata Prof. Dasi Astawa saat membedah buku yang berjudul Kisah Seorang Pionir di Denpasar, Selasa (14/6/2022).
Menurutnya, ditengah-tengah menjadi pemimpin pada lembaga negara, Umar mampu menjadi pemimpin pelayan publik dan terus melakukan evaluasi dengan fungsinya dan selalu mengedepankan kejujurannya pada pelayanan. Mampu berbaur dengan semua pimpinan yang ada di Bali dan mampu menempatkan dimana posisinya. Sehingga dalam kepemimpinannya di ORI Bali sangat cair akan tetapi tidak pernah larut.
Melihat gaya kepemimpinannya di ORI Bali, Umar Ibnu Alkhatab disebut telah memiliki idealisme langka melekat dibadanannya.
“Butuh idealisme langka seperti yang diperlihatkan oleh Umar dalam memimpin ORI Bali. Ia telah menjadi pionir bagi penerusnya,”ujarnya.
Dasi Astawa mengatakan kepercayaan, kemauan dan didukung dengan keberanian serta ketulusan dalam mengabdi menjadikan Ombudsman Bali selama kepemimpinannya telah mampu menunjukan karakter organisasi yang kuat dan menjadi partner yang strategis bagi pemerintah di Bali, baik kabupaten kota maupun provinsi.
Dasi Astawa menambahkan, walaupun jabatannya sudah tamat setelah sepuluh tahun mengabdi tetapi diyakini riwayatnyanya tidak akan tamat. Umar bisa dijadikan kiblat, mampu menjadi trendsenter, mampu menjalankan perannya, bisa dijadikan contoh, panutan dan dijadikan referensi.
“Kita berharap kepemimpinannya bisa dilanjutkan oleh orang yang sama dan mampu menjadi eksekutor dan akselerator,” ucapnya.
Sementara Sosiolog Universitas Udayana Wahyu Budi Nugroho saat membedah buku Kisah Seorang Pionir, melihat gaya tulisan dan spaci yang agak renggang terlihat pasar buku tersebut untuk orang tua. Dalam kajian simbul pada cover buku ada kompas diartikan sebagai petunjuk arah keputusan. Artinya, Ombudsman dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan publik sudah memiliki job deskcription jelas yang ditetapkan pemerintah. Sementara warna kain poleng sudah jelas simbul masyarakat Bali yang sangat kuat.
“Foto dan udeng kain endek yang digunakan Umar sebagai kepala ORI Bali mampu melakukan penyesuaian terhadap norma dan budaya yang ada di Bali,”bebernya.
Sementara melihat dari judul buku, Wahyu Budi Nugroho melihat akan bisa memicu kecurigaan dan komentar sepihak. Apakah menempatkan pionir pasca reformasi dan birokrasi atau tidak. Sebab, melaksanakan reformasi dan birokrasi bukan saja dilakukan Kepala Ombusdman termasuk pegawai juga sebagai pionir.
Dalam membaca buku tersebut, Wahyu Budi Nugroho tidak melihat pionirnya saat menjabat. Melainkan Umar dilihat telah menjadi pionir sejak menjadi dosen di kampus yang ada di Flores, Nusa Tenggara Timur.
“Kalau masyarakat membaca buku ini akan muncul pertanyaan, siapa sih sebenarnya Umar ini,”katanya.
Sementara Umar Ibnu Alhatab menyampaikan, awalnya judul buku ‘Pengawasan dari Rumah Kos’. Judul tersebut diprotes oleh anaknya yang duduk di bangku SMP sehingga atas protes tersebut langsung diganti. Menurutnya sebutan pionir mungkin mengesankan bahwa dirinya terlalu bangga diri. Bahkan banyak rekannya seperti itu menapsirkannya.
“Saya memahami sebutan itu secara lugas saja, tanpa beban pemitosan. Pionir hanyalah pembuka jalan, bidak yang membuat langkah pertama karena ditaruh di barisan depan. Tidak lebih,”tegasnya.
Menurutnya dengan menceritakan pengalaman tersebut Umar bermaksud siapapun yang berkhidmat, berjuang, atau memiliki konsern dalam bidang ini, khususnya para pemimpin lembaga ini selanjutnya dapat mengambil inspirasi dalam kadar seberapapun dari cerita yang ditulisnya.
“Saya berharap dari cerita ini bisa sedikit memberikan gambaran untuk melancarkan kiprah lembaga ini selanjutnya, juga meminimalisasi berbagai kekurangan dalam upaya mendekati kesempurnaan,”pungkasnya. (arn/jon)








