
KUTSEL – Raut wajah 800-an krama Desa Adat Tanjung Benoa tampak semringah sesaat setelah mengikuti parum di masing-masing banjar, Senin (6/6/2022). Pasalnya, mereka pulang lengkap dengan membawa tentengan berupa daging ayam plus uang tunai senilai Rp 50 ribu.
Pemberian daging ayam dan uang tunai itu, adalah bagian dari program rutin pihak desa adat. Yang sudah beberapa kali dilaksanakan, guna meringankan beban krama dalam menyambut perayaan Galungan, khususnya Penampahan.
Bendesa Adat Tanjung Benoa Made ‘Yonda’ Wijaya mengungkapkan, total terdapat 4 banjar adat di wilayah Desa Adat Tanjung Benoa. Bertepatan dengan rangkaian Galungan, tepatnya pada momen Penyajaan, dilakukan pembagian daging yang kali ini adalah berupa daging ayam. Selain itu, juga diberikan uang tunai senilai Rp 50 ribu sebagai modal pembelian bumbu, berkaitan dengan Penampahan yang jatuh, Selasa (7/6/2022).
“Walau situasi pandemi seperti sekarang, kami tetap berupaya meringankan beban krama dalam menyambut perayaan Galungan nanti. Pada momen berikutnya, tentu kami berharap bisa memberikan lebih banyak lagi kepada krama,” ungkapnya.
Bertepatan dengan Galungan nanti, yakni ketika pelaksanaan Parum Agung, setiap krama yang hadir juga akan diberikan uang kehadiran senilai Rp 100 ribu. Di samping itu, juga akan diberikan voucher belanja pada Tenten Mart senilai Rp 50 ribu.
“Voucher belanja ini kami maksudkan untuk meningkatkan pemahaman krama, bahwa di Tanjung Benoa sudah ada mart-mart milik desa adat,” bebernya.
Lebih lanjut, Yonda juga menegaskan bahwa pihaknya di desa adat akan senantiasa berupaya hadir membantu krama yang sedang mengalami kesulitan. Tujuannya tiada lain adalah untuk meringankan beban yang dipikul oleh krama, seperti yang dirasakan saat ini akibat pandemi Covid-19.
Atas dasar komitmen serupa, tidak lama lagi pihaknya juga berencana meluncurkan sebuah program baru dengan konsep bantuan upakara kelayusekaran (kematian). Dengan nominal yang masing-masing mencapai angka sekitar Rp 15 juta/krama berpulang. (adi/jon)








