
GIANYAR – Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Distannak Gianyar, I Wayan Suarta menyebut harga tanaman porang saat ini terjun bebas dari Rp 14 ribu per kilogram di awal 2021 kini hanya Rp 3 ribu per kg.
I Wayan Suarta mengatakan, komoditas pertanian porang di Kabupaten Gianyar masih tahap pemula dan petani belum ada panen.
“Fluktuasi harga ekstrim ini juga menyebabkan beberapa petani masih enggan menanam porang,” kata Suarta, Kamis (12/5/2022).
Ia menyebut tanaman porang di Gianyar mulai dikembangkan sejak awal Covid-19 melanda.
“Saat ini, luas lahan yang ditanami porang menyentuh 36 hektar dan ini masih terbilang sedikit dibanding kabupaten lain seperti Buleleng dan Karangasem,”sebutnya.
Porang dikembangkan oleh 40 petani dari empat kecamatan yaitu Payangan, Tegallalang, Gianyar dan Blahbatuh.
“Dari 40 petani tersebut, baru tiga petani yang lahannya mendapat sertifikat atau lisensi tanam porang. Sertifikat ini penting, selain terdaftar sebagai petani porang, penjualannya juga tidak dihambat dan mendapat harga yang memadai,” tegasnya.
Pihaknya memberikan jalan kepada petani pemula dengan mendaftarkan lahan agar mendapat Good Agriculture Practice (GAP) karena selain lahan mendapat jaminan mutu, juga keamanan saat pasca panen dengan kepastian harga.
Persyaratan mendapatkan sertifikat GAP yaitu memiliki nomor ijin usaha (NIB), memahami pengolahan lahan sesuai GAP, melakukan pencatatan dalam pengembangan Porang.
“Dinas pertanian siap memfasilitasi petani yang mengajukan GAP,” tandasnya. (jay)








