
JEMBRANA – Salah satu kriyapatra yang menjadi topik pembahasan di Paruman Agung Dharmoghosana, Paruman Agung Prawerthi Sabha, Paruman Wuku Bala, Perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara tahun 2022, yang berlangsung Sabtu (19/2/2022) di Pura Mertasari Desa Adat Lokasari Kelurahan Lolaan Timur, Jembrana, adalah membahas tingkatan pengaskaran dalam upacara atma wedana.
Paruman menghadirkan ratusan peranda lanang/istri tapini dan walaka, sejebag Bali Nusantara. Paruman dipimpin langsung Mukya Pengelingsir Dangkertha, Perkumpulan Dharmopadesa Pusat, Ida Peranda Rai Gunung Ketewel.
“Bahwa tingkatan sinangaskaran atau pengaskaran pada upacara atmawedana, yang paling sederhana (kanista) sesuai kajian pustaka lontar yang ada, diputuskan bahwa pengaskaran atmawedana yang sederhana, tidak hanya dapat diterapkan bagi kalangan peranda atau walaka saja, namun juga berlaku untuk semua umat Hindu,” kata Ketua Panitia Ida Bagus Susrama.
Hal itu juga disesuaikan dresta desa mawicara maupun cara mawatata, disesuikan tata cara ataupun tata titi yang ada di wilayah tempat masing-masing.
Paruman Agung Prawerthi Sabha, Paruman Wuku Bala, Perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara, merupakan kegiatan tahunan di setiap Wuku Bala pada kalender Bali.
Kabupaten Jembrana sebagai tuan rumah, sengaja memilih Pura Mertasari, sebagai tempat paruman. Selain Pura Mertasari sebagai pura berstatus Dangkhayangan, dari enam Pura Dangkhayang di Jembrana, berikut petilasan Ida Peranda Sakti Wawu Rauh, ketika pertama membangun peradaban pertanian diBali, sekitar 1489 M.
Pelaksanaan paruman di saat pandemi ini, menerapkan prokes serta jaga jarak sangat ditekankan panitia, termasuk kegiatan paruman dilaksanakan bergotong-royong, karena pembiayaan tidak tersedia.
Ketua Prawerthi Sabha Dharmaghosana Pusat, Ida Bagus Putu Dunia mengatakan, selain paruman Wuku Bala yang menjadi program kerja Prawerthi Sabha pusat, juga ada pembinaan SDM, hingga kegiatan pediksaan dan nodya peranda ketika lebar atau meninggal. (ara,dha)








