
GIANYAR – Harga babi di Thailand dikabarkan naik karena kurangnya pasokan yang disebabkan kemunculan demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).
Melihat kondisi tersebut, Kabupaten Gianyar sebagai sentra ternak babi terbesar di Bali siap memasok babi ke Thailand.
“Apabila dibutuhkan, kami siap memasok daging babi ke Thailand. Setidaknya, pasokannya satu ton daging babi per bulan,”ujar Plt. Bidang Pembibitan dan Produksi Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Gianyar, Made Santiarka, Rabu (16/2/2022).
Data Dinas Peternakan Kabupaten Gianyar, tahun 2016 populasi babi mencapai 119.826 ekor dan tahun berikutnya meningkat 120.017 ekor. Kemudian, tahun 2018 mencapai 119.861 ekor dan 2019 mencapai 138.764 ekor. Hanya, tahun 2020 menurun drastis 83.316 ekor akibat wabah ASF. Tahun 2021, populasi kembali naik 87.248 ekor.
Hanya, kata Santiarka, tidak mudah untuk ekspor daging karena harus melewati proses administrasi dan pengecekan laboratorium.
“Kami siap menyediakan pasokan mengingat potensi di Gianyar ada, tapi prosesnya cukup panjang. Jangankan ekspor, penjualan daging antar pulau saja harus ada administrasi dan ini ranahnya di provinsi,” jelas Made Santiarka.
Ia mengungkapkan, pemeriksaan laboratorium menyangkut pengecekan darah, mendeteksi adanya suatu penyakit, serta lainnya. Setelah lolos, berlanjut ke pengecekan organiletik babi berkaitan dengan bau, warna, rasa, dan tekstur daging.
“Persyaratan lainnya adalah suatu kawasan atau pulau setidaknya selama lima tahun dan tidak pernah terjadi sebaran penyakit seperi flu babi atau penyakit lainnya yang membahayakan manusia,”ungkapnya.
Tak hanya mengantongi surat lolos uji laboratorium, ekspor daging juga wajib mendapat izin dari kementerian.
“Diperlukan beberapa persyaratan seperti uji laboratorium, Surat Keterangan Kesehatan Produk Asal Hewan (daging) dan ada Nomor Kontrol Veteriner (Ber- NKV). Terpenting adalah persetujuan dari negara penerima. Masing-masing negara mempunyai ketentuan berbeda- beda dan semuanya harus dipenuhi sehingga produk daging yang dikirim bisa diterima,”ujar Santiarka.
Ditanya kondisi peternak Babi di Gianyar, ia menyebut sudah bisa menentukan permintaan dan kebutuhan daging babi secara umun untuk dijual.
“Peternak secara alamiah memelihara sesuai kebutuhan atau permintaan karena kalau kelebihan nanti malah harga anjlok. Peternak juga memiliki jaringan tersendiri untuk penjualan,”imbuhnya. (jay)








