
GIANYAR – Peternakan ikan air tawar di Kabupaten Gianyar belum tergarap maksimal padahal potensinya cukup menjanjikan. Bahkan, tahun 2021, produksinya melampui target, tapi tak memenuhi target pasar.
Kabid Perikanan Dinas Kelautan dan Ketahanan Pangan Gianyar, Ketut Armadi mengatakan, sampai saat ini ada sekitar 38 hektar kolam dan tambak ikan yang dikelola oleh 114 kelompok peternak ikan.
Ketut Armadi mengungkapkan, potensi ekonomi ikan air tawar masih menjanjikan. Kelompok peternak mengembangkan ikan lele, patin, gurami dan udang.
“Penjualannya di tingkat lokal Bali dan masih kurang serta tidak bisa memenuhi target pasar,” ujar Ketut Armadi, Selasa (15/2/2022).
Ia menyebutkan, di tahun 2021 produksi ikan air tawar mencapai 930 ton dari target produksi 918 ton. Tahun ini, produksinya ditarget 937 ton.
Para petani ikan sudah memiliki pangsa pasar tersendiri.
“Kecuali lele, belum ada komoditas lain masuk Gianyar dan sampai saat ini kebutuhan pasar masih tinggi, utamanya untuk kuliner,” ungkap Armadi.
Yang sering menjadi kendala, kata Armadi, adalah sumber air untuk kolam ikan karena tambak membutuhkan air mengalir yang bersumber dari irigasi.
“Air untuk kolam ikan atau tambak berasal dari aliran irigasi. Petani ikan bekerja sama dengan warga subak untuk mendapatkan air. Di saat air irigasi putus, petani ikan mulai kelimpungan dan mengupayakan sedot air. Ini yang masih menjadi permasalahan,” jelasnya.
Sementara, Pekaseh Subak Pering, I Ketut Lendra menilai pemerintah sangat lambat melakukan perbaikan saluran irigasi. Di wilayahnya, terdapat kurang lebih 5 hektar kolam dan tambak ikan.
“Kolam dan tambak itu butuh air, tapi kenyataannya saat saluran irigasi rusak hanya dilakukan perbaikan seadanya,” tegas Ketut Lendra sembari berharap program yang digulirkan pemerintah dalam memajukan pertanian sejalan dengan perbaikan infrastruktur pertanian.
Ia mengungkapkan, warga subak gotong royong memperbaiki saluran dengan membuat tanggul sementara memakai kampil diisi pasir.
“Kalau hujan besar, tanggul pasir pasti hanyut dan 250 hektar lahan terancam krisis air. Selain lahan pertanian tidak mendapat air, juga keberadaan tambak akan mati,” tandasnya. (jay)








