
KUTSEL – Moda transportasi trem listrik yang kabarnya akan menghiasi sejumlah tempat di Bali, ternyata masih sekedar wacana. Belum ada kepastian soal hal itu akan benar-benar terbangun ke depannya atau tidak. Hal tersebut mengacu pada penyampaian Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali I Gede Wayan Samsi Gunarta belum lama ini. Trem itu masih berstastus wacana.
“Kami belum bisa mengeluarkan konsep yang clear tentang itu sama sekali. Memang ada pendekatan-pendekatan terkait itu, tapi kita masih olah terus. Kira-kira seperti apa konteksnya nanti,” sebutnya beberapa hari lalu.
Namun demikian menurut dia, moda transportasi semacam itu merupakan hal yang mau tidak mau harus dipikirkan untuk ke depannya. Sehingga hirarki transportasi di Bali bisa berjalan dengan baik.
“Mulai dari backbone, internal loopnya seperti apa, kemudian connecting model kendaraan pribadinya akan seperti apa,” ucapnya.
Kaitan dengan itulah, maka trem bisa saja menjadi suatu pilihan yang harus diambil. Namun bisa jadi juga menggunakan yang lain.
“Kami masih melihat peluang-peluang yang ada. Jadi itu belum clear. Tapi secara konsep dia akan nanti melayani backbone. Jadi misalnya sekarang Trans Metro Sarbagita itu kan jadi backbone, maka nanti akan ada loop-loop yang mengkonek itu. Nah loop-loop area ini yang sebetulnya kita arahkan entah mungkin nanti bentuknya bis listrik, bisa juga trem, bisa juga yang lain,” sebutnya.
Karenanya, Samsi kembali menegaskan bahwa trem adalah wacana yang belum clear. Proses kajian dan pembahasan masih berlangsung. Selain itu, dia menegaskan bahwa selama ini pihaknya juga belum pernah memberikan semacam exposure kepada umum berkaitan dengan hal itu.
Di lain hal, sambung Samsi, trem dan Light Rail Transit (LRT) adalah dua rencana yang berbeda. Karena untuk LRT sendiri sudah beberapa kali melalui FGD dan masuk ke dalam konsep mobility, terutama terkait dengan akses bandara.
“Bisa dibilang LRT lebih maju sedikit. Kajiannya sudah dilakukan, hanya sekarang menuju ke kajian teknis. Utamanya persyaratan teknis yang harus dipenuhi oleh moda bersangkutan, kalau memang mau diberlakukan. Ini yang harus dipersiapkan dahulu dan kita yakinkan itu bisa dipenuhi oleh moda tersebut. Jadi masih panjang lah prosesnya, termasuk juga yang penting itu siapa yang membiayai ini kalau memang mau dibangun. Karena kan membangun di bawah tanah itu mahal. Kemudian membangun di atas tanah, mengganggu. Kita harus cari jalan keluar yang bisa optimum yang kira-kira bisa dibiayai,” bebernya. (adi/jon)








