
KUTSEL – Di wilayah Kecamatan Kuta Selatan, kembali muncul desa adat yang menyatakan tidak membuat ogoh-ogoh kaitan rangkaian perayaan Nyepi nanti. Itu adalah Desa Adat Pecatu yang menyimpulkan tidak membuat ogoh-ogoh setelah gelaran rapat bersama, Sabtu (22/1/2022) lalu.
Bendesa Adat Pecatu Made Sumerta yang kemudian dihubungi via ponsel pada Minggu (23/1/2022) mengatakan, rapat ketika itu menghadirkan dari berbagai unsur. Mulai dari prajuru desa, saba desa, kerta desa, yowana desa, serta para yowana dari masing-masing banjar dan kelian tempek.
Salah satu pertimbangan peniadaan pembuatan ataupun pengarakan ogoh-ogoh tersebut, kata dia, yakni kekhawatiran terhadap timbulnya kerumunan pada saat hari Pangerupukan nanti. Utamanya akibat hadirnya penonton dari luar desa. Mengingat diketahui dia, sejumlah desa adat sebelumnya telah menyatakan tidak membuat ogoh-ogoh.
“Kami juga menghindari terjadinya kerumunan, karena desa tetangga tidak membuat dan menggelar parade ogoh-ogoh. Jika di Pecatu digelar, tentu warga desa tetangga bisa saja datang dan menonton ke Pecatu,” sebutnya.
Ketika hal semacam itu terjadi, sambung dia, maka dipastikan kontrol terhadap protokol kesehatan cegah Covid-19 akan sulit dilakukan. Pertimbangan semacam itu diakui menjadi alasan, di samping kondisi ekonomi yang masih lesu.
Meski tidak membuat dan mengarak ogoh-ogoh, Sumerta memastikan bahwa gelaran tawur tetap akan dijalankan. Pelaksanaannya diatur sedemikian rupa memperhatikan protokol kesehatan Covid-19, termasuk dengan membatasi jumlah orang yang dilibatkan secara langsung. Yakni hanya menghadirkan perwakilan saja, termasuk dari para yowana. (adi/jon)








