
DENPASAR – Gelaran bulutangkis even internasional di Bali lalu yakni Indonesia Master, Indonesia Open dan BWF World Tour Final nampaknya memberikan hikmah tersendiri bagi Pengprov PBSI Bali. Beberapa diantaranya terlibat di even itu. Ketiga even Internasional dan beruntutan dihelat itu sangat ketat dan membutuhkan SDM yang terbiasa mengerjakan even itu.
Seperti diutarakan Sekretaris Umum (Sekum) PBSI Bali IGB Arya Candra Palasara, sangat sulit mengerjakan even sebesar itu.
“Kami pastinya tak mampu sendirian di Bali mengerjakan even sebesar itu. Sangat ketat, perlu perhitungan matang dan memang tenaga ahli yang bisa mengerjakan even itu sesuai bidangnya masing-masing,” kata Arya Candra Palasara, Minggu (12/12/2021).
Diakui pria yang akrab disapa Tu Gus ini, mulai persiapan pengerjaan venuenya, kesehatan dan kenyamanannya, sampai semua pihak tidak boleh keluar dari hotel memberikan hikmah tersendiri bagi dirinya.
“Para pemain bulutangkis bahkan hanya tinggal di hotel, tapi memang ada waktu tersendiri ke pantai dibelakang hotel itupun dibatasi jam dan dikawal pihak keamanan maupun pecalang. Itupun tidak setiap hari ke pantai dan ditentukan waktunya. Tak hanya itu hampir setiap dua atau tiga hari sekali dilakukan PCR sesuai dengan batas waktu PCR. Dan itu dilakukan terus sampai pertandingan selesai,” jelas Tu Gus.
Setidaknya lanjutnya, ada hal yang bisa diambil untuk menggelar even seperti di lokalan Bali dulu seperti Kejuaraan-Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) atau saat Poprov Bali tahun 2022 nantinya untuk cabang olahraga (cabor) bulutangkis.
“Lumayan ada tambahan ilmu atau wawasan baru dalam menggelar even. Apalagi ini even level internasional yang bisa diambil sisi positifnya,” demikian Tu Gus. (ari/jon)








