Jaga Lahan Tak Miliki Akses di Seminyak, Bertahun-tahun Keluar Masuk Gunakan Alur Sungai

0
222
Akses darurat yang dibangun di atas alur sungai belakang Cocoon Beach Club, Seminyak

KUTA – Sebuah tracking semi permanen terpantau terbangun di atas alur sungai belakang Cocoon Beach Club, Seminyak. Tracking sepanjang puluhan meter itu tampak melayang di atas sebagian lebar sungai.

Jalur tersebut track tersebut merupakan akses ke sebuah lahan kosong yang ditempati sejumlah pria asal wilayah timur Indonesia. Mereka mengaku tinggal di sana karena ditugaskan menjaga lahan bersangkutan oleh perwakilan pemilik.

Ditanya soal tracking yang dirakit dengan kayu bekas tersebut, mereka mengungkapkan, sesungguhnya sudah dibangun bertahun-tahun silam. Itu karena lahan yang mereka tempati , tidak memiliki akses lain untuk keluar masuk. Sekeliling lahan tersebut kini sudah berdiri bangunan baru yang sepengetahuan mereka akan dipergunakan sebagai tempat akomodasi wisata.

“Mau bagaimana lagi? Pemilik lahan katanya sudah berusaha untuk mendekati pemilik lahan sebelah, tapi tetap tidak ada perkembangan,” ucap salah seorang di antaranya yang mengaku bernama Tarsisius Ketun (30), Rabu (24/11/2021) lalu.

Ketiadaan akses representatif, cukup menyulitkan dalam beraktivitas. Seperti halnya ketika membawa air galon, yang harus berhati-hati akibat tracking yang riskan jebol. Kondisi itu pula yang diyakini membuat salah satu rekannya akhirnya meregang nyawa sekitar dua bulan lalu. Rekannya yang beberapa hari mengalami sakit, akhirnya tewas ketika dilarikan ke rumah sakit.

“Almarhum sebenarnya adalah salah satu saudara yang bertahun-tahun bersama kami menjaga lahan ini. Di lahan ini, dia tinggal bersama anak dan istrinya. Namun sekitar dua bulan lalu dia mengalami sakit, sehingga harus segera kami larikan ke rumah sakit. Tapi sayang kami sepertinya sedikit terlambat, sehingga nyawa saudara kami itu tidak dapat tertolong. Dia didiagnosa mengalami serangan jantung,” ungkapnya didampingi dua rekan lainnya yang bernama Benediktus Suni (34) dan Darius Ketun (22).

Akibat kejadian tersebut, Tarsisius merasa amat bersalah. Terlebih kepergian saudaranya itu meninggalkan istri dalam keadaan hamil 6 bulan.

“Coba saja ada akses keluar masuk yang lebih baik, saya yakin nyawa saudara kami itu bisa tertolong. Tidak seperti saat itu, malam-malam kami gotong almarhum yang sudah tidak sadarkan diri melewati akses yang sangat rawan. Kami melangkah dengan sangat berhati-hati, sehingga membutuhkan waktu lebih dari 20 menit untuk berjalan hanya sekitar 70 meter saja menuju ambulans yang sudah menunggu di jalan raya,” ucapnya.

Terpisah, perwakilan pemilik lahan yakni Pendeta Shephard Supit mengaku sangat menyayangkan dan meminta maaf atas kejadian tersebut. Kata dia, pembukaan akses keluar masuk sesungguhnya sudah beberapa kali coba diupayakan.

“Kami sesungguhnya sudah bernegosiasi supaya ada pembukaan jalan. Bahkan sempat dimediasi Jro Bendesa, dengan hasil pembicaraan akan dibukakan akses beberapa meter. Nyatanya belum dibuka, bahkan justru ditembok,” sebutnya.

Dia sendiri tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi dan siap bernegosiasi kembali.

“Kami berharap ada pihak-pihak berwenang yang ikut menaruh perhatian terhadap persoalan ini. Kami, tentu siap untuk dimediasi dan bernegosiasi kembali,” pungkasnya. (adi/jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − nine =