Komisi II DPRD Sika Terpukau dengan Penataan Desa Wisata Saba

0
234
Rombongan Komisi II DPRD Sika berkunjung dalam rangka study banding di Desa Wisata Saba.

GIANYAR –  Komisi II DPRD Kabupaten Sika, Nusa Tenggara Timur, melakukan study banding di Desa Wisata Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Kamis (18/11/2021). 

Kedatangan rombongan dipimpin Wakil Ketua Komisi II DPRD Sika, Yosep Don Bosko diterima Ketua Pokdarwis, Kadek Merta Anggara bersama anggota dan staf manajemen di aula pertemuan Krisna Oleh-Oleh Bali.

Yosep Bosko mengaku merasa beruntung bisa belajar di desa yang mimiliki hamparan sawah hijau dan keasriannya masih tetap terjaga.  Banyak pengetahuan yang didapatnya, mulai dari peran pihak ketiga dalam penataan kawasan pemukiman, hingga menjaga adat istiadat agar tetap ajeg.

“Sangat luar biasa, dari penataan wilayahnya, pemukimannya dan tamanisasi. Apa lagi ada keterlibatan pemerintah dan pihak ketiga dalam CSR. Kami tidak salah memilih tempat belajar di Kabupaten Gianyar. Kami sangat apresiasi apa yang kami dapat disini sangat luar biasa, semoga kami bisa tiru di tanah kelahiran kami di Sika, NTT,” ucapnya. 

Sementara, Ketua Pokdarwis Desa Saba, Kadek Merta Anggara memberikan sejumlah penjelasan terkait peran pihak swasta dalam penataan kawasan pemukiman. 
“Penataan tidak lepas karena ada peran pemerintah, pengusaha dan masyarakat. Bagaimana desa itu bisa berkordinasi dengan pemerintah, investor serta mengedukasi masyarakat terkait sapta pesona sebagai salah satu syarat pendirian desa wisata,” jelasnya didampingi Wakil Ketua, Nyoman Artawa Putra serta Perbekel Saba, Ketut Redhana. 

Ia juga menyampaikan keterlibatan pengusaha dalam pengembangan faktor penunjang pariwisata, seperti pemeliharaan tamanisasi, area parkir, khususnya di Banjar Blangsinga. Selain itu, adanya pemberdayaan melibatkan generasi muda dalam menjaga dan melestariskan budaya sehingga mampu menjadi daya tarik wisatawan. 

Dalam kaitanya menjaga desa adat, sangat didukung oleh peran komponen masyarakat  hingga bisa eksis sampai saat ini.
“Utamanya kebaradaan tanah desa yang dijaga untuk kelangsungan hidup masyarakat adat, lewat awig dan pararem,” ungkapnya. (jay) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 1 =