
DENPASAR – Sukses membawa pulang 2 medali emas, 2 perak dan 1 perunggu yang diraih 5 petinju Bali yang turun pada Kejuaraan Tinju Open Nasional dan Rookie Fight seluruh Indonesia dengan titel Batu Super Fight V Piala Walikota Batu yang berakhir Minggu (14/11/2021), nampaknya bukan misi utama bagi 5 petinju pelapis Bali itu.
Ketua Umum Pengprov Pertina Bali, Made Muliawan Arya menilai memang raihan prestasi itu cukup bagus namun yang tak kalah pentingnya misi mengikuti kejuaraan itu yakni, untuk meambah jam terbang kelima petinju itu.
“Memang hasilnya bagus tapi bagi kami paling utama yakni agar pengalaman dan mental bertanding para petinju pelapis Bali itu semuanya bisa berlipat ganda. Termasuk ada pengalaman berlaga di luar Bali. Apalagi kasihan juga kelima petinju itu rajin berlatih setiap hari tapi tidak ada pertandingan yang diikuti. Karena itulah ketika ada kejuaraan di Batu langsung kami ikutkan,” ungkap pria yang akrab disapa De Gadjah itu, Senin (15/11/2021).
Meski demikian, De Gadjah yang juga Wakil Ketua DPRD Denpasar itu mengaku dan mengeluarkan uneg-unegnya jika kejuaraan itu kemasannya masih belum atau kurang profesional.
“Ya memang ada sedikit tanda kutip aneh dalam suatu pertandingan yang dialami petinju kami dan akhirnya petinju kami itu hanya meraih perak dan bukan emas kendati seharusnya emas. Tapi ya sudahlah. Tapi setidaknya hal-hal seperti itu terkait faktor non teknis juga memberikan hikmah tersendiri bagi kami agar petinju pelapis Bali bisa lebih baik lagi ke depannya,” sebut De Gadjah.
Dua emas Bali dipersembahkan Ndawa Kajepi atau Jecklin di kelas 48 kg dan Matias Magang di Kelas 60 kg. Sedangkan dua perak diraih Alexander Melasi di Kelas 45 kg dan Dominikus Kamawa di Kelas 63,5 kg serta perunggu disabet Putu Anggito di Kelas 57 kg. (ari/jon)








