
DENPASAR – STT Dharma Sattwika Banjar Kebonkuri Mangku, Kelurahan Kesiman, Denpasar Timur, ikut ambil bagian dalam ajang lomba kostum karnaval pada event d’youth festival 2021 yang digelar Pemerintah Kota Denpasar.
Paksi Ireng atau burung gagak dipilih sebagai ikon garapan kostum karnaval menggunakan kardus bekas. Karya pun tampil elegan, mewah nan megah.
Adalah I Komang Marjana selaku kreator sekaligus Wakil Ketua STT Dharma Sattwika, sukses mengerjakan kostum cantik yang siap diperagakan pada puncak penilaian di Gedung Darma Negara Alaya (DNA), Lumintang, Denpasar Utara, Sabtu (6/11/2021).

Marjana mengaku mengerjakan kostum Paksi Ireng saat malam hari. Maklum, siangnya ia bekerja di salah satu hotel di Pecatu, Badung.
“Saya membagi waktu sehingga proses pengerjaannya hanya saat malam hari saja. Itupun kalau lagi mood bagus,” tutur pemuda kelahiran 21 Maret 1997 ini saat ditemui di rumahnya, Jumat (5/11/2021).
Prosesnya diawali dari mengumpulkan kardus-kardus berkas kemudian diolah dan dikreasi menjadi kostum karnaval berkelas. Proses pengerjaannya juga dibantu anggota STT.
“Mulai mengumpulkan kardus, proses mendesain hingga diperagakan model sekitar satu bulan, “ kata lulusan SMK Otomotif ini.
Ide menggunakan kardus sebagai bahan utama mewujudkan kostum memang serasi dengan pewarnaan yang ditimbulkan. Selain itu, berbagai hiasan ornamentasi terbuat dari ‘lem tembak’ dan “finishing” menggunakan cat gold dan hitam.
“Meskipun sebelumnya telah ada beberapa karya yang menggunakan judul Paksi Ireng, tetapi maksud dan tujuan karya ini tentu memiliki originalitas tersendiri, khususnya dalam hal tematik seperti pemaknaan dan gagasan, stylistic atau ciri khas,” ujarnya.
Menurutnya, ide Paksi Ireng ini cukup menarik. Berawal dari burung gagak yang sering diidentikkan sebagai pemberi kabar duka akan adanya orang meninggal sehingga kehadirannya sering menimbulkan kecemasan.
Di Bali, nama gagak sering juga dijadikan perumpamaan bagi orang yang sombong, sebagaimana ada istilah “care guwak ngadanin ibane”.
“Citra negatif tentang gagak inilah yang menstimulus kami untuk menelusuri kebenaran tentang gagak. Dari beberapa referensi yang ada, burung gagak merupakan salah satu spesies unggas yang memiliki kecerdasan cukup tinggi,” ungkapnya.
Sementara, pegiat budaya Kadek Wahyudita mengapresiasi karya pemuda yang memiliki dedikasi dalam menciptkan karya baru. “Bukan soal bagus atau tidak. Bukan soal wow atau tidak. Bukan soal benar atau salah. Saya hanya mengapresiasi kerja para muda mudi yang “kere-aktif” dan berupaya ikut berpartisipasi dalam kegiatan d’youth festival Kota Denpasar,” ucap Wahyudita.
“Pesan saya, jangan juara dijadikan orientasi dalam berkreativitas. Teruslah berkarya. Berkaryalah untuk dirimu, untuk desamu, dan kotamu,” harapnya.
Sebelumnya, penampilan karya kostum karnaval Paksi Ireng telah diunggah di instagram D’Youth Fest dan sukses mendapatkan like lebih dari 4 ribu orang. Menggunguli puluhan karya lainya dari berbagai desa dan kelurahan di Kota Denpasar. (sur)








