
DENPASAR – Sastrawan Agus Noor dan Putu Fajar Arcana menjadi narasumber di Timbang Rasa ( Sarasehan) bertema “Alih Media dalam Seni” kolaborasi dan ragam Stilistik dan Estetik Kini, di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Selasa (2/11/2021).
Di sarasehan secara daring dipandu IGA Ayu Novitasari itu, kedua narasumber menyikapi perkembangan digitalisasi yang dikhawatirkan mengerus peradaban di bidang kesenian.
Agus Noor memaparkan, idealisme seniman dalam menyikapi dunia digital atau serba alih media pada prinsipnya tidak ada masalah.
“Semua seniman mempunyai sikap idealisme atas gagasan. Di jaman digital ini, kemampuan teknik seniman sebenarnya sudah siap, hanya cara kita menyikapinya dengan cara berkolaborasi. Misalnya, dunia seni pertunjukan memanfaatkan teknologi,” kata sastrawan asal Yogyakarta ini.
Ia juga menyoroti dunia seni pertunjukan saat ini dibanding dunia perfilman.
“Dunia seni pertunjukan agar bisa naik derajat perlu membuat kompetisi sehingga teman – teman seniman termotivasi. Kita perlu membuat semacam kompetisi agar bisa diterima seperti hajatan film ada anugerah dan semacamnya. Di Amerika, seni pertunjukan ada penghargaan terbaik. Setiap tahun, semacam festival jadi karya-karya terpilih dinilai, dibuat nominasi, dan diberikan penghargaan,”ungkapnya.
Agus Noor yakin seni pertunjukan di era digital takkan kehilangan penonton karena ada kenikmatan berbeda dibandingkan menonton film.
“Tugas kita sebagai kreator membangun pencitraan, menarasikan konten seni pertunjukan itu lebih kreatif sehingga semakin dicintai. Inilah peran kreator di jaman digital, ada fenomenal digital yang menjadi ketergantungan dan saya kira dibutuhkan penguatan secara kultural,” tegasnya.
Di saat dunia penuh dengan batasan, memang terjadi kegamangan secara sosial dan dunia berkesenian sangat merasakan hal itu. Tidak boleh berkumpul, sedangkan ada jarak yang harus diikuti.
“ Di satu sisi, teknologi juga hadir memberikan pemecahan, tampil secara virtual dan bisa juga dinikmati secara langsung melalui media digital,” kata Agus Noor.
Sementara, Putu Fajar Arcana menekankan, para pemikir kebudayaan di Bali mampu merumuskan tata kelola berkesenian secara berkelanjutan.
“Pemikir kebudayaan harus membuat strategi bagaimana mencari rumusan kebudayaan secara matang menyikapi peradaban seni kekinian yang tetap diwadahi teknologi tanpa mendegranasi kehidupan berkesenian yang diwariskan adi luhung di masa mendatang,”ujarnya .
Ia menilai pola pengelolaan seni di Bali cukup baik seperti pagelaran Bali Jani menjadi metode penting dalam proses berkesenian khususnya seni modern. Syukurnya, seni-seni tradisi di Pulau Dewata masih tetap terjaga.
“Lokal genius pola seni tradisi yang masih dijumpai di pedesaan masih terjaga, tinggal bagaimana upaya memelihara. Jadi, bakat ini hanya tumbuh secara alami, alam yang mengajarkan mereka. Kalau ini dirawat dengan baik dari investasi pariwisata, maka pagelaran seperti Pesta Kesenian Bali selama 40 tahun lebih akan terjaga dan Festival Bali Jani tetap berlanjut,” ungkap sastrawan sekaligus redaktur seni dan budaya Kompas ini.
Fajar juga menyinggung ketergantungan Bali terhadap pariwisata. Ia menilai, perekonomian sangat riskan tatkala Bali dilanda krisis wabah hingga mengakibatkan sektor andalan anjlok.
“Bayangkan ketika bandara tutup, efeknya sangat terasa radiusnya tidak saja dekat bandara, tapi bisa berdampak pada desa-desa di ujung Timur Bali, di pegunungan. Kondisi ini yang perlu dipikirkan Bali, bagaimana investasi pariwisata ini mampu memelihara tradisi yang tetap bertahan di pedesaan,” tandasnya.
Fajar menyebut media digital telah membuat masyarakat sangat ketergantungan hingga terlanjur sangat jauh. Kesadaran akan potensi lokal sebagai bagian masyarakat semua tergerus, baik alam, lingkungan, dan sebagainya. ”Tetapi, masyarakat lokal untungnya tidak meninggalkan tradisi lokal itu. Buktinya, profesi masyarakat lokal tetap bertahan, ada yang berprofesi nelayan, petani, tetap dilakoni meski pandemi menghantam,” ungkapnya. (sur)








