
DENPASAR – Berkesenian sebagai salah satu entitas kebudayaan penting yang hadir dan selalu dihadirkan. Apalagi, di tengah ketercekaman akibat pandemi, seni pun bisa menjadi alternatif mengharmoniskan diri sekaligus menjadi momentum mulat sarira.
“Seni Sebagai Seruan Kesadaran”, demikian tema hangat dan memikat dalam agenda Timbang Rasa ( Sarasehan) Festival Seni Bali Jani (FSJB) III yang dibedah oleh dua narasumber, Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika dan dr. Dewa Putu Sahadewa, SpOG (K). Kegiatan dilaksanakan secara daring diikuti 150 orang peserta, Senin (1/11/2021).
Sarasehan dipandu jurnalis I Nyoman Wilasa mengetengahkan situasional berkesenian di Bali di masa pandemi itu berjalan menarik dan memberi pesan yang kuat terhadap problema masyarakat dalam menghadapi Virus Corona.
Prof. Mahardika yang merupakan ahli virus lulusan Jerman menyebut sebuah pelajaran berharga ketika dunia dilanda gering agung Covid-19. Sebab, melalui pandemi ini selalu diingatkan untuk lebih mengenal diri dan mulat sarira.
“Bicara seni sebagai sarana edukasi, kita dibentuk oleh seni, berkesenian adalah proses pendidikan agar tercipta sebuah kesadaran jiwa, bukan sekadar seremonial, tapi niat yang tulus dalam berkomunikasi kepada sang diri,” ucapnya.
Guru Besar FKH Unud itu menambahkan, di tengah pandemi, pihaknya tidak pesimistis orang-orang yang melakoni seni akan tetap memiliki peluang untuk bertahan hidup. Artinya, proses kreatif seorang seniman mampu menghasilkan nilai-nilai secara ekonomi dan terjadi saat situasi pandemi meski berlangsung virtual.
“ Pandemi melahirkan banyak ide karya, misalnya seorang sastrawan atau penyair di saat pandemi mampu menerbitkan karya dalam bentuk buku, pelukis berkarya. Begitu pun seni drama, seni wayang hadir di publik,” ungkapnya.
Namun, kata Prof. Mahardika, Bali yang selama ini menjadi barometer pariwisata dan berkembang pesat, disaat pandemi sangat kehilangan segalanya, bali luluh lantah alias tiarap.
“Artinya, saya melihat ada kesalahan dalam pengambilam sumber pendapatan Bali yang mengabaikan pertanian. Di saat pandemi, Bali merasakan kehilangan sumber pendapatanya. Belum lagi masalah jumlah penduduk, sosial dan sebagainya. Inilah tantangan kita, berpikir ulang lagi. Terlebih, tugas seniman mampu hadir di ruang yang tepat menyampaikan pesan kepada publik,” tandasnya.
Sementara, pegiat sastra sekaligus dr. Dewa Putu Sahadewa menyikapi dunia seni modern dengan diberikan ruang seperti Ajang FSBJ yang diprakarsai Ni Putu Putri Suastini Patut diapresiasi. Alih ilmu berkesenian dari generasi ke generasi berikutnya memang memanfaatkan ruang untuk berkarya.
“ Tugas kita memelihara apa yang diwariskan , apa yang diciptakan dan disempurnakan, jadi seni atau berkesenian itu tak semata-mata untuk kebahagiaan diri sendiri, bagaimana mengharmonisasikan nya dalam sendi sendi kehidupan, bermanfaat bagi masyarakat luas alam dan sebagainya,” jelasnya.
Warih Wisatsana selaku kurator mengungkapkan, sarasehan atau Timbang Rasa diagendakan merujuk pada tema besar FSBJ yang ketiga ini dengan fokus pada harmoni diri dan bumi.
“ Memang kita sebagai kurator merancang khusus 7 kegiatan Timbang Rasa yang saling bertautan, baik tema mengupas teater, puisi, alih media terkait virtual, upaya pembacaan senirupa. Dalam timbang rasa kali ini, kita menghadirkan dua narasumber keduanya memiliki dasar akademisi yang mumpuni, yang satu ahli virus lulusan jerman yang satu dokter mengurus RS namun aktif membangun ekosistem berkesenian di Bali,” kata Warih usai acara berlangsung.
Warih menambahkan, tema yang diangkat dan dipaparkan menautkan situasi saat ini yaitu menyikapi pandemi.
“Satu momentum perubahaan , momentum penciptaan seni, ada prokes, larangan tampil di tempat umum, masing masing ada ruang laboratorium penciptaaan, dan perbincangan sangat memikat, yakni membaca ulang tranpormasi sosial kultural masyarakat Bali secara keseluruhan.Jadi momentum pandemi untuk mulat sasarir, saya kira pesanya sangat kuat sekali,” pungkas Warih. (sur)








