
JAYAPURA – Satu-satuya lifter Bali I Ketut ‘Banat’ Ariana yang turun di cabang olahraga (cabor) angkat besi sukses membawa pulang medali perunggu setelah turun dengan naik kelas dari 73 kg menjadi 81 kg, pada PON XX/2020 dalam babak final yang digelar di Auditorium Universitas Cendrawasih, Kota Jayapura, Kamis 7 Oktober 2021.
Menurut Ketua Pengprov PABSI Bali, Wayan Bun “Obit” Setiadi usai pertandingan, strategi naik kelas itu ternyata sukses dilakukan.
“Banat atau Ariana kami sebenarnya memang hanya ditargetkan medali perak saja namun dengan raihan perunggu itu sudah cukup. Itu karena juga dampak dari naik kelas. Kalau Banat tidak naik kelas dan tetap di kelas 73 kg dan diikuti hanya 3 lifter saja maka yang diperebutkan hanya medali emas dan perak tanpa perunggu,” ungkap Obit.
Apalagi lanjutnya, di kelas 73 kg sudah ada lifter juara dunia yang sudah pasti sudah meraih medali emas, sebaliknya di kelas 83 kg memang ada juara perunggu olimpiade tapi pesertanya lebih banyak sehingga perunggu diperebutkan.
Menyoal raihan itu sendiri, Obit menjelaskan jika Banat mengalami kendala yakni cedera di bahunya masih terasa meski sedikit. Hal itu terlihat saat melakoni angkatan terakhir yakni Snatch. Sedangkan di nomor lean and jerk Banat berada di posisi dua.
“Cedera di bahunya kambuh lagi,” beber Obit.
Total angkatan Banat dengan medali perunggu itu sendiri yakni 305 kg, sedangkan medali perak diraih lifter asal Jawa Timur, Anwar M. Choirul dengan total angkatan 306 kg serta medali emas menjadi milik Erwin A. Rahmat dari Sulawesi Selatan dengan total angkatan 340kg.
“Ya tetap saja dengan hasil perunggu ini membuat kami bangga dan perjuangan Banat saat bertanding sangat luar biasa,” demikian Obit. (ari)








