
Ade Pranita Sulistya Devi, salah seorang pebulutangkis PON Bali
DENPASAR – Penentuan pebulutangkis unggulan atau seeded pada PON XX/2020 di Papua Oktober mendatang kini memang agak sulit ditetukan karena kejuaraan level nasional bulutangkis seperti sirnas ataupun kejurnas selama masa pandemi tak digelar, sehingga berakibat ranking nasional pebulutangkis sulit ditentukan.
Menurut Ketua Umum Pengprov PBSI Bali, I Wayan Winurjaya saat ditemui di sela-sela simulasi pebulutangkis PON Bali di GOR Anugerah, Selasa (14/9/2021) mengutrakan, ranking nasional itu telah dibahas PP PBSI bersama Ketua Pengprov PBSI se-Indonesia belum lama ini.
“Soal rangking ini sudah kami bahas dalam rapat Dewan Pengawas. Ini sangat urgen karena sebagai dasar penentuan seeded di PON nanti,” kata Winurjaya.
Lalu bagaimana penentuan seeded di PON mendatang? Ditambahkan Winurjaya, informasi awalnya jika ranking nasional di tahun 2019 yang akan digunakan sebagai acuan seeded. “Maka dari itu pada 16 September lusa (besok, red) ada rapat dengan PB PON. Kami harap semuanya bisa dirilis,” beber Winurjaya.
Diakuinya, jika merujuk dari ranking nasional di tahun 2019 itu ada beberapa nama pebulutangkis Bali yang masuk atau minimal menempati posisi 8 besar per kategori. Seperti nama Ade Pranita Sulistya Devi (putri), Komang Ayu Cahya Dewi (putri) Komang Tri Adnyana (putra) dan Ayu Gary Luna Maharani (putri).
“Tapi khusus Ayu Gary, dia spesialis ganda, yang lainnya di tunggal,” imbuhnya.
Terlepas dari semua itu, menyoal simulasi yang dilakukan sudah berjalan bagus.
“Simulasi ini terjadi karena kami tidak bisa melakukan ujicoba baik try out maupun try in, sehingga sparing antar rekan jadi solusinya. Tidak apa, tapi pelatih sudah menekankan agar anak-anak serius dalam menjalani simulasi ini,” demikian Winurjaya. (ari)








