
BADUNG – Isu Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Kuta di ambang bangkrut membuat nasabah panik hingga memutuskan menarik simpanan, baik tabungan maupun deposito di LPD Kuta.
Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista mengakui adanya kecenderungan masyarakat menarik simpanan di LPD sejak sepekan lalu. Ia juga tidak menampik likuiditas LPD Kuta saat ini sedang membutuhkan perbaikan. Selain itu, kemampuan masyarakat membayar kredit sangat lemah dampak pandemi Covid-19. “Untuk membantu memulihkan likuiditas, kami mendorong masyarakat yang masih terbilang mampu untuk menabung di LPD,”ujarnya.
Ia berharap masyarakat bisa menunda penarikan jika tidak ada keperluan mendesak. “Mari kita bersama-sama jaga eksistensi LPD karena yang mampu menjaga keberadaan LPD adalah masyarakat itu sendiri. LPD adalah harapan kita bersama sehingga mari kita bersama-sama menjaga LPD ini,”harapnya.
Mundra mengungkapkan, LPD Kuta masih memiliki banyak agunan yang diambil alih (AYDA) dan bisa diuangkan. Hanya, itu membutuhkan waktu. “Jadi, kami berharap masyarakat tidak panik dan memahami kondisi yang sedang dihadapi. Saat ini, kami sedang bergerak melakukan upaya-upaya pemulihan,” ungkapnya.
Sekadar diketahui, nasabah yang hendak menarik simpanan di LPD Kuta sempat viral di media sosial. Dalam video berdurasi sekitar dua menit itu, Ketua Tim Pemulihan LPD Kuta I Gusti Anom Gumanti memberikan pemahaman kepada masyarakat.
Anom Gumanti berharap tidak terjadi rush pada LPD Kuta karena isu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, kondisi LPD Kuta baik-baik saja. “Jikapun ada masalah, biarkan saya dahulu yang memeriksa dan hasilnya pasti saya laporkan ke masyarakat. Sebagai bentuk kepedulian saya selaku krama desa adat, untuk menguatkan keberadaan LPD ini, maka hari ini saya menabung Rp 100 juta. Jangan takut, apalagi LPD masih banyak memiliki aset. Jika nanti mau narik uang dalam jumlah banyak, maka mohon bersabar dahulu,” ucapnya. (adi)








