Buntut Uang Rp 2,5 Miliar, Oknum Advokat Diberhentikan

0
158
Sidang agenda putusan dibuka Ketua Majelis Gusti Ngurah Muliarta didampingi anggota majelis Ketut Bagiada, I Ketut Jaya, I Ketut Rai Setiabudhi, dan Gede Rudia Adiputra di Ruang Saraswati, Hotel Inna Bali Heritage Denpasar.

DENPASAR – Setelah melalui proses persidangan dan pembuktian, Dewan Kehormatan Daerah (DKD) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) DPC Denpasar menjatuhkan vonis bersalah terhadap advokat Ary Budiman Soenardi dari kantor Budiman & Co karena dinilai melakukan pelanggaran Kode Etik Profesi Advokat Indonesia. 

Sidang dengan agenda putusan dibuka oleh Ketua Majelis Gusti Ngurah Muliarta didampingi anggota majelis Ketut Bagiada, I Ketut Jaya, I Ketut Rai Setiabudhi, dan Gede Rudia Adiputra di Ruang Saraswati, Hotel Inna Bali Heritage Denpasar pada Jumat 16 Juli 2021.

Pengaduan terhadap Oknum Advokat tersebut berawal dari uang Rp 2,5 miliar yang diterimanya dari pengadu Nicholas John Hyam asal Inggris yang merupakan mantan kliennya. Pengadu mentransfer uang kepada teradu untuk biaya operasional. Namun, perkara di Mahkamah Agung kalah dan kuasa yang diberikan kepada teradu dalam tingkat kasasi telah dibatalkan atau dicabut. Hanya saja, teradu masih tetap mengambil putusan kasasi di Pengadilan Negeri Denpasar.

Terhadap pengaduan tersebut, teradu memberikan tanggapan uang itu bukan untuk operasional melainkan lawyer fee untuk memberikan jasa hukum ditingkat Kasasi dan telah diakui oleh pengadu sendiri dalam somasinya pada 20 Oktober 2020.

Uang yang ditransfer oleh pengadu Rp 2,5 miliar kepada teradu adalah uang untuk mengurus perkara ditingkat kasasi sebagaimana percakapan pengadu dengan teradu dalam percakapan WhatsApp sehingga majelis hakim berpendapat bahwa teradu telah membebani pengadu dengan biaya-biaya yang tidak perlu sehingga Majelis berkesimpulan teradu telah melanggar ketentuan Pasal 4 huruf e Kode Etik Advokat Indonesia yang menyebutkan Advokat tidak dibenarkan membebani klien dengan biaya-biaya yang tidak perlu.

Selain itu, teradu dinyatakan bersalah melanggar ketentuan Pasal 2 Kode Etik Advokat Indonesia. Majelis berpendapat tindakan yang dilakukan oleh teradu mengakibatkan rusaknya citra serta martabat kehormatan profesi advokat yang wajib dijunjung tinggi sebagai profesi yang mulia dan terhormat sehingga teradu harus diberikan sanksi yang sepadan dengan pelanggarannya berupa pemberhentian tetap dari profesinya dan pemecatan dari keanggotaan organisasi profesi dan selain itu teradu dibebankan untuk membayar beban perkara.

Pengadu Nicholas John Hyam didampingi kuasa pendamping masing-masing Johny Riwoe, Yulius Benyamin Seran, Laurens B. Deru, Naldi Elfian Saban dari Kantor Law Firm Benjamin Seran Jr & Partner sementara dari pihak teradu didampingi oleh Ricky J. Brand, Nengah Sukardika dan Ricky Maulana.

Laurens Brindisi Deru kepada wartawan menyampaikan, kliennya memberikan apresiasi yang setingginya kepada DPC Peradi Denpasar terutama Majelis DKD yang telah memberikan rasa adil kepada kliennya.

Advokat asal Flores ini berharap putusan ini patut dijadikan referensi atau pedoman bagi rekan-rekan advokat untuk senantiasa menjaga marwah profesi yang terhormat ini sehingga profesi yang disebut officium nobile selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat pencari keadilan.

Sementara, pengacara Ari Budiman, Ricky Brand yang dikonfirmasi awak media melalui WhatsApp belum memberikan jawaban. (dum)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here