Habiskan 1,5 T, Kelanjutan Program Simantri Dipertanyakan

0
179
Program Simantri yang sempat berjaya kini dipertanyakan keberlangsungannya

DENPASAR – Program Sistem Manajemen Pertanian Terintegrasi (Simantri) yang digulirkan sejak kepemimpinan Gubernur Bali Made Mangku Pastika 2009-2018. Program sudah berjalan 10 tahun lebih dan terbentuk 752 kelompok Simantri tersebar diseluruh kabupaten kota di Bali dan selama 10 tahun telah menghabiskan anggaran Rp 1,5 Triliun lebih dalam APBD Provinsi Bali.

“Setiap kelompok Simantri digulirkan bantuan sebesar Rp 200 juta yang dimanfaatkan untuk pembangunan kandang ternak dan bibit ternak sapi. Setelah sepuluh tahun berjalan, keradaan kelompok ternak Simantri nyaris tidak terdengar bahkan nama Simantri sudah berubah,” Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry saat dihubungi via telepon, Minggu 11 JUli 2021.

Menurut Sugawa Korry, 2009 sampai tahun 2019 di Bali, terbentuk 752 Simantri atas dukungan, pembinaan dan bantuan pemerintah daerah Bali. Sugawa Korry mengatakan, dari sisi ide dan kebijakan untuk memberdayakan kalangan peternak.

“Ide dan kebijakan ini, sangat bagus, apalagi diintegrasikan dengan upaya untuk meningkatkan produktifitas peternak dengan penghasilan tambahan melalui produksi pupuk organik serta diintegrasikan dengan strategi mendukung mewujudkan Bali sebagai pulau organik,”ujarnya.

Pada saat program Simantri terus berjaln dan semakin banyak tumbuh kelompok Simantri baru saat itu, mendapat dukungan penuh pemerintah sehingga 200 tenaga penyuluh dilibatkan guna memberikan pembinaan kepada kelompok Simantri dengan harapan, mampu memberikan peningkatan pendapatan bagi petani dalam mewujudkan kesejahteraan petani.

Sayangnya, setelah 10 tahun berjalan, banyak kelompok Simantri yang tidak lagi aktif melanjutkan aktifitasnya dilapangan. Parahnya lagi, hasil pengecekan di lapangan banyak juga Simantri yang sekarang berganti nama menjadi Sistem Pertanian Terpadu (Sipadu) yang masih melaksanakan aktifitasnya, dibawah pembinanaan UPTD Sipadu.

“Kami cek dilapangan, kondisinya sudah jauh berbeda, kalau dulu ada 200 tenaga penyuluh, tetapi sekaranh hanya tinggal 20 personil saja,” bebernya.

Sugawa Korry menambahkan, ide kebijakan pengembangan Simantri dinilai sangat positif, dalam kontek meningkatkan kesejahteraan peternak melalui usaha ternak sapi, dan produksi sampingannya serta diintegrasikan dlm konteks mewujudkan Bali sebagai pulau organik. Hasil produksi kelompok Simantri seperti kotoran sampi diolah pupuk organik, urine dari ternak sapi juga diolah menjadi pupuk. Bahkan, dari kelompok Simantri juga bisa menghasilkan gas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Melihat keberhasilan program ini sebelumnya, Sugawa Korry meminta Simantri atau Sipadu lebih dimaksimalkan lagi untuk kesejahteraan petani.

“Sudah tentu sangat tidak tepat kalau Simantri atau Sipadu ini, tidak ditangani secara maksimal,” ujarnya.

Sementara menindaklanjuti dari hasil pengecekan ke lapangan pada sejumlah Kelompom Simantri di Drsa Gerogak, Buleleng, selaku Ketua DPD Golkar Bali, Sugawa Korry langsung menugaskan kadernya di setiap wilayah kabupaten kota di Bali guna melakukan inventarisasi dalam rangka mendorong peningkatan keberpihakkan terhadap pembinaan dan pengembangan Simantri ini.

“Kami telah membentuk tim khusus, melalui badan pembinaan dan pemberdayaan petani /peternak Golkar Bali. Sekrang sedang kami persiapkan rumusan masalah-masalah prioritas dan solusi pemecahannya, pasca Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, ditengah pandemi Covid-19. Setelah PPKM Darurat kami akan terjun kelapangan,”pungkasnya. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here