
BULELENG – Menghadiri acara Lokasaba V Pratisentana Bendesa Manik Mas (PBMM) Kabupaten Buleleng, tak hanya dimanfaatkan Ida Pedanda Mas dari Gria Mas Kelurahan Liligundi Kecamatan Buleleng untuk memberi siraman rohani. Pada acara yang dihadiri Sekretaris PBMM Pusat, Manggala PBMM Kabupaten serta Kecamatan se-Kabupaten Buleleng, Pedanda Mas juga mengingatkan pentingnya pemahaman tentang Jatidiri Hindu.
“Pembentukan organisasi, paiketan pasemetonan untuk mempererat persaudaraan sangat penting. Selain nyame beraya serta semangat ngayah, layah dan mayah, organisasi kemasyarakatan juga harus mengacu adat istiadat, dresta sehingga bisa mencapai tujuannya yakni kesejahteraan dan kedamaian,” tandas Peranda Mas, Minggu, 30 Mei 2021 pada acara Lokasaba PBMM Kabupaten Buleleng di LC Bhaktiseraga.
Didampingi Ketut Wiratjana selaku Manggala PBMM Kabupaten Buleleng, Peranda Mas juga mengingatkan agar organisasi kemasyarakatan yang dibentuk, tak hanya menyejahterakan tapi juga meningkatkan pemahaman krama tentang Jatidiri Hindu.
“Penguatan organisasi kemasyarakatan berbasis agama, termasuk lembaga yang dibentuk untuk memberi pengayoman harus dikuatkan. Bukan hanya kebutuhan sarana prasarana, yang terpenting adalah penguatan dasar hukum, pemahaman tentang Jatidiri Hindu yang bersifat universal sesuai kerangka ajaran Tatwa, Susila dan Upacara,” tegasnya.
Dengan memahami jatidiri, krama maupun umat akan dapat melakukan tatwa, susila dan upacara, melalui serada bhakti kepada Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa termasuk leluhur.
“Karena, Jatidiri Hindu tidak mengenal pengkultusan seseorang sebagai Tuhan,” tandasnya.

Senada dengan Peranda Mas, Manggala PBMM Kabupaten Buleleng Ketut Wiratjana menegaskan, organisasi yang dibentuk sejak tahun 2013 ini, diharapkan dapat mengayomi umat, khususnya dalam paiketan semetonan Bendesa Mas.
“Dilaksanakan dengan semangat wirang, suka cita untuk menyama beraya dan dilandasi dengan komitmen siap ngayah, layah dan mayah. Hal ini, yang menjadi dasar menggerakkan organisasi yang tersebar diseluruh Kabupaten/Kota di Bali dan 9 Kecamatan di Kabupaten Buleleng,” ungkapnya.
Dengan pemahaman Jatidiri Hindu yang universal, warga atau krama Pratisentana Bendesa Mas tidak terikat dalam memanfaatkan pemuput ritual upacara.
“Apakah itu peranda, pandita, empu atau begawan, yang terpenting pelaksanaan tattwa, susila dan upacara dilakukan sesuai dresta serta dipimpin oleh yang berwenang dan patut,” pungksnya.(kar)









Om Swastiastu, titiang sekedar usul ida peranda… dalam setiap muput atau memimpin upacara Apakah itu peranda, pandita, empu atau begawan, sebelum memuput ada baiknya memberikan wejangan, pencerahan, pemahaman, penjelasan ataupun sejenisnya perihal upacara yg dipuput, sehingga masyarakat awam dapat palingtidak mengetahui. sehingga tidak hanya sekedar ” nak mulo keto”.