Wacana Perubahan Nama Ibukota Gianyar, Ini Tanggapan Bupati Mahayastra

0
1199
Bupati Gianyar Made Mahayastra.

GIANYAR – Usulan perubahan nama untuk ibukota Kabupaten Bangli menjadi topik menyita perhatian publik. Kini, wacana serupa juga mulai muncul di Kabupaten Gianyar.

Bupati Gianyar Made Mahayastra saat dimintai tanggapanya menegaskan, perubahan nama ibukota Kabupaten Gianyar dirasa belum perlu. Ia menegaskan, untuk saat ini yang terpenting bagaimana mempopulerkan nama Gianyar melalui berbagai prestasi dan capaian yang diperoleh. “Seperti Gianyar kota ramah anak, Gianyar kota wisata, Gianyar kota kuliner, Gianyar kota pusaka, Gianyar layak dikunjungi, kota untuk keluarga. Itu yang penting karena seribu kali berubah nama jika tidak ada perubahan takkan ada gunannya,” tegas Mahayastra.

BACA JUGA:   Mengejutkan, Ini Hasil Swab Pertama 12 Warga Sayan Baleran

Berdasarkan penelusuran WARTA BALI pada situs resmi Kabupaten Gianyar, sejarah Kota Gianyar ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar No.9 tahun 2004 tanggal 2 April 2004 tentang Hari jadi Kota Gianyar.

Dalam situs itu disebutkan sejarah Gianyar telah berlangsung dua seperempat abad lebih, tempatnya 245 tahun yang lalu, tepat tanggal 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton atau Puri Agung oleh Ida Dewa Manggis Sakti. Semenjak itu sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan di Bali. Hingga era Hindia Belanda menguasai seluruh pulau Bali. Dinamika sejarah yang panjang tersebut, hingga kini nama Gianyar tetap digunakan.

BACA JUGA:   Komplotan Curanmor Belasan TKP Digulung

Sekadar diketahui, sejak tahun 1950 sampai sekarang, hampir lima dasawarsa lebih telah tercatat sebelas orang Kepala Pemerintahan/Bupati Gianyar yang sempat memimpin Gianyar, yakni 1. A.A. Gde Raka (1950-1960), 2. Tjokorde Ngurah (1960-1963), 3. Drh. Tjokorde Dalem Pudak (1963-1964), 4. I Made Sayonga (1964-1965), 5. Bupati I Made Kembar Kerepun (1965-1969), 6. Bupati A.A. Gde Putra, SH (1969-1983), 7. Bupati Tjokorda Raka Dherana, SH (1983-1993), 8. Bupati Tjokorda Gde Budi Suryawan, SH (1993-2003), 9. Bupati A.A.G. Agung Bharata, SH (2003-2008), 10. Bupati DR.Ir.Tjokorda Gde Oka Arta Ardhana Sukawati, M.Si (2008-2013) dan 11. Bupati A.A.G.Agung Bharata, SH (2013-2018). Dan 12. I Made Mahayastra (2018-sekarang). (jay)

BACA JUGA:   Penganiayaan LC, Kapolresta Sebut Ada 8 Anggotanya di Diskotik Grahadi Bali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here