
GIANYAR – Banjar Adat Batur Sari, Kelurahan Bitera, Kabupaten Gianyar, selama ini dikenal menjadi sentra pembuatan jaje uli. 95 persen masyarakat setempat menggeluti bisnis makanan dengan bahan utama ketan yang umumnya dipakai saranan banten itu.
Bendesa Adat Batur Sari Dewa Nyoman Gede menuturkan, pembuatan jaje uli telah digeluti masyarakat sejak tahun 1960 dan sampai sekarang masih tetap eksis. Terlebih, bahan baku berupa pohon kelapa banyak tumbuh di wilayah setempat.
Di tengah kemajuan teknologi, beberapa masyarakat sudah beralih memotong jaje uli menggunakan mesin. “Kalau dulu motongnya dengan cara ngaet dan sekarang pakai mesin, tapi masih ada beberapa warga menggunakan cara manual,” tuturnya pada Minggu 9 Mei 2021.
Ni Nengah Suarni misalnya. Kepada WARTA BALI, ia bersama suaminya I Wayan Turun mengaku hampir 20 tahun menggeluti usaha jaje uli dan dalam sehari bisa memproduksi sampai 15 kilogram. Hanya, Suarni belum menggunakan mesin untuk memotong. Per 50 pcs dijual Rp 10 ribu tergantung ukuran. Apa yang menjadi kendala ? “Biasanya saat musim hujan agak susah karena jaje uli usai dipotong harus dijemur. Selain itu, kadang bahan baku juga naik,” kata ibu dua anak ini.
“Ulian” (karena) usaha jaje uli, Suarni bisa menguliahkan anak bungsunya di Politeknik Negeri Bali. “Suami sempat kerja di vila, tapi dirumahkan karena pandemi dan sekarang ikut bantu membuat jaje uli,”ucapnya.
Pandemi Covid-19 sempat memengaruhi pesanan jaje uli hingga Suarni menghentikan produksi. “Sempat ngoyong ten maan medagang (sempat tidak produksi karena tidak ada pesanan) karena adanya pembatasan pelaksanaan upacara adat karena pandemi. Sekarang baru mulai lagi,” ujarnya. (jay)








