
GIANYAR – ARMA Museum memasuki usia ke-30 tahun pada Rabu (10/6/2026). Selama tiga dekade terakhir, ARMA Museum, Ubud, Gianyar, hadir sebagai salah satu penjaga denyut seni dan budaya Bali yang tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan zamannya. Dalam perjalanan tersebut, ARMA tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi karya seni, tetapi juga menjadi ruang pertemuan bagi seniman, pelajar, budayawan, hingga wisatawan yang ingin memahami Bali lebih dekat melalui seni dan budaya.
“ARMA lahir dari keyakinan bahwa seni dan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus terus hidup, dipelajari, dan dijaga,” ujar Agung Rai, pendiri Museum ARMA.
Pada tahun 2026 ini, Agung Rai mendapatkan penghargaan Parama Satya Budaya dari Pemerintah Kabupaten Gianyar sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya dalam mengemban, membina, mengembangkan, dan melestarikan seni budaya.
Sebagai pusat seni dan budaya yang hidup, Museum ARMA tak hanya menampilkan koleksi karya-karya penting para seniman, namun secara aktif menghadirkan berbagai program seperti pameran seni rupa, pertunjukan tari dan musik tradisional, lokakarya budaya, residensi seniman, program edukasi bagi generasi muda, hingga menyelenggarakan festival seni budaya ARMA Fest.
Rangkaian perayaan 30 tahun ARMA menghadirkan sederet kegiatan seperti pameran tradisi maupun kontemporer, serta festival seni budaya ARMA Fest yang puncaknya akan dilaksanakan pada 19–20 September 2026. ARMA Fest mewadahi geliat seniman dan sanggar seni tradisi untuk menampilkan garapannya, salah satunya melalui kegiatan lomba baleganjur. Serangkaian ulang tahunnya ARMA Museum juga mengadakan kegiatan sosial.
“Perayaan ini sekaligus menjadi penghormatan kepada seluruh seniman, budayawan, komunitas, dan masyarakat yang telah menjadi bagian dari perjalanan ARMA selama 30 tahun,” ujarnya. (dar,yan)








