
Kadiskes Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya
DENPASAR – Menjadi tantangan sangat berat bagi pariwisata Bali untuk bisa dibuka dalam waktu dekat ini seperti yabg telah direncanakan awal Juni mendatang. Kalangan pariwisata Bali terus mendesak agar penerbangan internasional segera dibuka sehingga wisatawan internasional bisa berwisata ke Bali. Sementara sejak e Mei lalu ditemukan varian baru mutasi virus Covid-19 sangat beresiko. Selain varian baru Covid-19, pelaksanaan vaksinasi sejak seminggu lalu ngadat terbukti tempat vaksinasi di halaman belakangan DPRD Bali nihil kegiatan vaksinasi.
Hal itu disampaikan Ketua Fraksi PDIP DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, di Denpasar Selasa 4 Mei 2021.Terlambatnya obat vaksin di Bali, Dewa Mahayadnya mengaku sah -sah saja. Hal itu dikarenakan pemerintah pusat tidak hanya memikirkan Bali saja, namun seluruh Indonesia. “Teman-teman di pariwisata sudah teriak mati- matian agar dibuka (pariwisata,Red),” sergahnya.
Menurutnya dibukanya pariwisata internasional untuk Bali sangatlah berpengaruh dengan vaksinasi. Sementara kegiatan vaksinasi ngadat akibat vaksin tidak tersedia bahkan kosong lantaran tidak ada pengiriman dari pusat. “Vaksinasi merupakan salah satu syarat kalau pariwisata ingin dibuka selain itu juga dengan kedisiplinan masyarakat sendiri dalam penerapan protokol kesehatan yang benar agar jumlah kasus Covid 19 di Bali bisa menurun,” ujarnya.
Politisi PDIP Buleleng ini mengatakan, keterlambatan pelaksanaan vaksinasi akibat obat vaksin yang ngadat saat ini, sudah dipastikan akan berpengaruh terhadap rencana dibukanya pariwisata internasional. Bahkan ia beranggapan kalau pesawat Singapore Airlines batal terbang ke Bali diakibatkan hal tersebut. “Sangat berpengaruh, mungkin ini salah satu penyebab Singapore Airlines rencana landing di Bali dibatalkan,” imbuhnya.
Dewa Mahayadnya berharap, masyarakat bisa memberikan dukungan dengan tetap taat dan disiplin peberapan protokol kesehata. “Saya rasa tentang metode prokes saya kira semua sudah tahu, disiplin yang terpenting,”pintanya.
Seperti dalam rencana sebelumnya pembukaan pariwisata adalah vaksinasi dan adanya zona hijau yang sehat. Tiga wilayah yang sudah ditetapkan sebagai zona hijau, Ubud, Denpasar dan kawasan ITDC Nusa Dua. Selain wilayah tersebut dijadikan zona hijau, masyarakatnya diharapkan selalu peduli dengan covid-19, sehingga segala antisipasi penyebaran dapat dilakukan secara optimal sedini mungkin demi menurunkan angka kasus yang ada. Sagangnya, dari destinasi zona hijau yang ditentukan belum rata semua mendapatkan vaksin.
Vaksinasi yang gencar dilakukan pada zona hijau seperti Ubud dijadikan target wisatawan domestik. Pelaksanaan vaksinpun dipantau langsung oleh Presiden dilakukan di kawasan Pariwisata Ubud. “Kita memang ingin Ubud, cita-cita orang memang ke Ubud untuk pariwisata domestik. Kalau asing mungkin Nusa Dua dan Kuta,”pungkasnya.
Sementara ditempat terpisah, Kadiskes Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya menyampaikan, Senin 3 Mei lalu, Bali telah mendapatkan 501 ribu dosis vaksin Astrazeneca dari pemerintah pusat. Kadiskes mengakui kedatangan vaksin sempat tersendat selama seminggu. Hal itu dikarenakana vaksin jenis sinovac masih terbatas.
Menurutnya, ngadatnya kedatangan vaksin bukan berarti tidak ada kegiatan vaksinasi. Sebab, disejumlah kabupaten kota masih ada ketersediaan 200 ribu dosis. Setelah 501 ribu dosis vaksin Astra Zinneca sudah sampai di Bali pelaksanaan vaksinasi akan dipercepat dan kabupaten sudah mengambil.
“Badung dan Gianyar langsung tancap gas. Buleleng dan Karangasem akan ambil mulai besok,”katanya.
Kadiskes Suarjaya menambahkan, kalau kedatangan valsin tetap ngadat diperkirakan target vakisnasi juga akan molor. “Kalau ngadat, target awal Agustus sudah tuntas, pasti akan molor,” pungkasnya. (arn)








