
DENPASAR – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Gde Sumarjaya Linggih gerah juga adanya rencana import sejuta ton beras oleh Mentri Perdagangan. Hal itu dikarenakan, selalu menjadi persoalan klasik setiap tahun. Menurut Demer selama ini ketidakberdayaan petani juga akibat ketidakmampuan Bulog dalam menyerap produksi gabah petani.
Bulog selalu kalah cepat dibandingkan dengan tengkulak. Bermodal pas-pasan, tengkulak bisa lebih cepat melakukan pendekatan meski gabah petani baru dibayar setelah digiling menjadi beras. Namun, tengkulak berani membeli gabah petani lebih mahal ketimbang Bulog. Tengkulak membeli gabah kering petani dengan harga Rp 4.100 sementara Bulog hanya mampu membeli dengan harga Rp 3.700. Penegasan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR-RI Gde Demer Sumarjaya Linggih, Kamis 25 Maret 2021.
Politisi Golkar asal Buleleng ini mengatakan selain tidak mampu membeli gabah petani lebih mahal, Bulog tidak mampu menjual beras.
“Ini kita bisa buktikan dari adanya stok betas yang sudah tidak layak kondumsi di gudang-gudang Bulog. Ini sudah menjadi rahasia umum, beras Bulog itu identik dengan beras kelas rendah,” tegasnya.
Melihat kenyataan ini dan selalu menjadi persoalan yang klasik setiap tahunnya, Demer berjanji akan segera melakukan koordinasi bersama jajaran Komisi VI DPR-RI untuk segara melakukan evaluasi terhadap kinerja Bulog patut dipertanyakan. Apakah keberadaan Bulog tetap dipertahankan ataukah dibubarkan. Ketika keberadaan Bulog tidak mampu mengatasi persoalan logistik nasional patut dipertanyakan.
“Saya rasa perlu dipertanyakan apakah keberadaan Bulog masih diperlukan. Kalau tidak, untuk apa menghabiskan anggaran negara untuk sebuah institusi yang tidak bermanfaat. Apalagi dalam visi misi Pak Jokowi yang ingin maksimal dalam memberikan pelayanan publik. Termasuk efektif dan efesiensi berbagai institusi yang dibiayai oleh negara,”katanya. (arn)








