Pancer Langiit Pentaskan”Tutur Korawisrama”, Kupas Kelahiran Taru Pule, Kepah, Kepuh dan Beringin

0
149
Sesolahan sastra bertajuk “Tutur Korawisrama” serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021.

DENPASAR – Sanggar Seni Pancer Langiit Art Production menyajikan sesolahan sastra bertajuk “Tutur Korawisrama” pada ajang Bulan Bahasa Bali 2021. Garapan mengisahkan kelahiran atau awal munculnya kayu kepuh, kepah, pule, dan kayu bringin itu tayang di channel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Sabtu 13 Februari 2021.

Garapan dibawah asuhan Art Director Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra, S.Sn.M.Sn tampil padu dalam teknik virtual yaitu unsur tari dan teater dipadukan dengan musik dan teknik videografi yang menarik ditonton. “Garapan ini sarat pesan, yaitu upaya kita dalam menjaga kelestarian alam salah satunya adalah menjaga tumbuhan sebagai sumber oksigen, melalui garapan seni kita harapkan pecinta seni, masyarakat untuk bersama-sama memperhatikan lingkungan kita,” ucap Agung Rahma Putra yang merupakan dosen tari ini.

Dalam pementasan berdurasi 33 menit tersebut, backsound adalah epic ethnik kolaborasi dan kelebihan dari garapan biasanya adalah karya ini selain menggabungkan unsur tari dan teater juga dipadukan dengan musik dan teknik videografi. ” Jumlah penari 13 dalam frame. Sedangkan penabuh menggunakan iringan musik midi,” ungkap Gung De Rahma–sapaan akrab Anak Agung Gede Agung Rahma Putra.

Sajian seni ini sungguh menarik dan apik. Kisah dipaparkan lewat ekspresi gerak yang masih bernuansa tradisional Bali yang dikemas baru. Pembabakkannya sangat detail, alurnya mengalir. Pesan yang ingin disampaikan begitu kuat, yakni tetap menjaga kelestarian alam salah satunya adalah menjaga tumbuhan sebagai sumber oksigen.

Dikisahkan, awal dari keinginan Dewa Siwa untuk menguji kesetiaan Dewi Uma. Dewa Siwa kemudian mengutus Dewi Uma, istrinya untuk turun ke dunia mencari susu lembu yang akan digunakan untuk mengobati sakitnya. Dewi Uma mendapatkan susu tersebut, namun dengan cara yang tidak benar. Karena itulah yang menyebabkan Dewa Siwa mengutuk Dewi Uma menjadi sangat menyeramkan dengan nama Durga Bhairawi.

Setelah sekian lama, Dewi Uma menjalani kutukan menjadi durga bhairawi, menyebabkan rasa rindu kepada Dewa Siwa, sehingga membuatnya turun ke dunia dan berubah wujud menjadi Kala Bhairawa. Pada saat Dewa Siwa dan Dewi Uma dalam wujud Kala Bairawa dan Durga Bhairawi lalu mereka bersenggama. Dari tetesan sperma beliau, lalu muncullah Taru (pohon) Pule, Kepah, Kepuh dan Beringin.

Penggabungan unsur tari dan teater tampil padu, selain itu juga garapan musik dan teknik videografi yang dipercayakan kepada Eka Sem dan didukung oleh seniman-seniman handal, menghasilkan tontonan menarik secara visual. Gerak tari, ekspresi para pemain, sangat hidup, dan pesan yang ingin disampaikan sampai kepada penikmat.

Selain itu, suguhan seni ini juga didukung tata kostum yang pas sehingga karakter masing-masing pemain menjadi lebih kuat. Suasananya juga sangat mendukung karena menggunakan iringan musik midi yang digarap oleh komposer I Wayan Ary Wijaya Palawara, S.Sn. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here