Tegang, Peserta Wimbakara Artikel Bahasa Bali “Nyobyahang” Depan Juri

0
64
Seorang peserta lomba artikel Bahasa Bali presentasi depan dewan juri.

DENPASAR – Para peserta “Wimbakara” (lomba) artikel Bahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021 tak hanya dituntut piawai menulis, tapi  juga “Nyobyahang” (presentasi) di depan dewan juri.  Meskipun tegang, mereka dengan lugas menyampaikan karya yang dibuat.  Kegiatan dilaksanakan di ruang Sinema, Art Center, Denpasar, Minggu 14 Februari 2021.

Pelaksana Teknis Bulan Bahasa Bali Made Mahesa Yuma Putra mengatakan, wimbakara artikel Bahasa Bali sebagai ajang untuk mendidik generasi muda untuk mencintai bahasa dan sastra Bali. Tema yang diangkat yaitu “Wana Kerthi. “Karena itu, artikel yang dibuat tentang alam, bagiamana melindungi hutan. Artikel yang dibuat menggunakan aksara dan bahasa Bali.  Pada Bulan Bahasa Bali tahun ini melaksanakan program Wimbakara Artikel Bahasa Bali, disatu sisi untuk melestarikan Bahasa dan Aksara Bali, disisi lain untuk melatih generasi menyusun artikel berbahasa Bali,” katanya.

Dalam artikel itu memaparkan tentang kegunaan tumbuh-tumbuhan sebagai dasar pengobatan tradisi sehingga masyarakat Bali lebih bersemangat untuk mengatasi pandemi. Hal ini juga untuk melindungi serta mengetahui peranan dari pada isi hutan (tumbuhan) sebagai dasar untuk pengobatan. “Artikel yang mereka buat mesti mengacu pada tema Bulan Bahasa Bali yakni Wana Kerthi berjudul “Tambananin Sarwa Hutan, yang artinya bagaimana hutan sebagai dasar dari pada pengobatan yang herbal, tanpa efek samping,” ungkapnya.

Pesertanya dari katagori umum yang diikuti 38 peserta. Mereka terlebih dahulu diberikan tema, kemudian melakukan penelitiaan ataupun pengamatan lalu menyusun artikel. Setelah selesai dikumpul dan diseleksi, 10 artikel dipilih untuk presentasi. Masing-masing peserta nyobyahang artikel sekitar 5 – 10 menit. Setelah itu akan memilih tiga besar menjadi pemenang. “Pemaparan artikel ini penting, apalah itu benar hasil penelitiannya, apakah nyambung antara yang mereka tulis dan yang dipresentasikan. Saat presentasi itu, para memaparkan hasil karyanya, apakah benar karya peserta itu sendiri atau tidak. Sekaranglah pembuktiannya,” ujarnya.

Tahun ini Lomba artikel dinilai oleh I Made Sudiana, S.S., M.Hum., Staf Balai Bahasa Bali, Drs. I Wayan Westa Budayawan dan I Gede Gita Purnama Arsa Putra., S.S., M.Hum., Dosen Universitas Udayana.

Salah seorang peserta, Kadek Mustika memaparkan artikel dengan tema “Usadhi Lata”. Tema itu telah diberikan sebulan jadwal lomba. Setelah mendapatkan tema, ia langsung melakukan pengkajian dari pemikiran saja, bukan melakukan penelitian dan pengkajian ke lapangan. Ia hanya melakukan penelitian dari membaca buku. Jumlah artikel itu maksimal 4 halaman. “Saya menulis Taru Premana Ngertiang Wana Nguripang Jadma. Isinya tentanng keberadaan tananam obat,”katanya.

Alasannya mengangkat tema itu karena generasi muda sekarang banyak yang tidak mengetahui tanaman obat sehingga kalau sakit lebih banyak mencari dokter. Survey yang dilakukannya, 47 persen anak muda tak mengenal tanaman obat, sehingga mereka cendrung ke dokter. “Berangkat dari situasi yang memprihatinkan itu, maka artikel ini saya angkat. Padahal, saat ini pemerintah telah melaksanakan program untuk melestarikan tanaman obat. Sayangnya, anak-anak muda jarang mengetahui tanaman obat,” ujarnya.

Anak muda mestinya mencintai tanaman obat yang ada dalam lontar Taru Premana itu. Bayangkan saja, dalam lontar itu menyebutkan ada banyak tanaman obat yang memiliki berbagai fungsi untuk obat yang belum diktahui oleh generasi muda. Nah, lebih penting lagi bagaimana menanamkan pada generasi muda, yang biswa dilakukan dari keluarga, masyarakat dan pemerintah. “Di keluarga mesti memiliki tanaman obat, anaknya diberikan pengetahuan tanaman obat, disekolah dikenalkan tanman toga, di masyarakat melibatkan peran bendesa adat dan aturan pemerintah untuk menanam tanman obat,” ungkapnya. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here